Banda Aceh — Silaturahmi Srikandi Ihsan Nusantara resmi dideklarasikan di Aula Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI), Banda Aceh, Kamis (8/10/2026) malam.
Deklarasi ini menjadi langkah membangun jejaring perempuan lintas daerah dan negara melalui penguatan dakwah Islam, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat berlandaskan nilai tauhid, tasawuf, akhlak, dan kasih sayang.
Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00 hingga 23.00 WIB itu dihadiri Murabbi Abuya Syekh Haji Amran Waly al-Khalidy beserta keluarga, Abu Muda Syukri Waly, Bunda Rahmi Waly, Bunda Hidayati Waly, serta Teuku Raja Saifullah selaku Sultan Kesultanan Daya dan Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam.
Turut hadir Datuk Kiam Raja Tgk. Prof. Dr. (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D., para Srikandi Tasawuf Nusantara dari dalam dan luar negeri, Ketua MPTTI, Ketua P2T beserta jajaran pengurus, para khalifah Abuya, dan sejumlah tokoh masyarakat.
Prof. Adjunct Dr. Marniati, S.E., M.Kes., dalam sambutannya mengatakan perjuangan Abuya Amran Waly al-Khalidy merupakan ikhtiar membimbing manusia agar mengingat Allah SWT dan memperkuat hubungan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Marniati, nilai tauhid, tasawuf, dan akhlak perlu diwujudkan melalui gerakan nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan Srikandi Ihsan Nusantara tidak seharusnya berhenti sebagai wadah silaturahmi, tetapi perlu berkembang menjadi gerakan pemberdayaan yang memberikan manfaat bagi umat.
Ia juga menyoroti peran perempuan dalam membangun keluarga, mendidik generasi, dan membentuk karakter masyarakat. Karena itu, kebersamaan dalam organisasi tersebut diharapkan menghasilkan program berkelanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung.
Sementara itu, Dato Rozana, Ketua Srikandi Nusantara Malaysia, menekankan pentingnya persaudaraan, sikap saling menghormati, dan kasih sayang dalam memperluas dakwah Islam. Ia berharap gerakan ini melahirkan perempuan berilmu, berakhlak, percaya diri, dan memiliki kemampuan kepemimpinan tanpa kehilangan kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Untuk mendukung keberlanjutan gerakan, enam program strategis diusulkan, yakni Srikandi Belajar, Srikandi Muda, Srikandi Kampus, Srikandi Keluarga, Srikandi Nusantara Bersama, dan Srikandi Digital.
Program tersebut mencakup kajian tauhid, tasawuf, dan akhlak; pembinaan kader perempuan muda; penguatan spiritualitas dan kepemimpinan di kampus; pendidikan keluarga; pembangunan jejaring lintas daerah dan negara; serta pemanfaatan media digital untuk menyebarkan pesan dakwah secara santun.
Keenam program itu diharapkan memperkuat kontribusi perempuan dalam bidang pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan. Namun, pelaksanaannya membutuhkan tindak lanjut agar gagasan yang diusung dapat diwujudkan dalam kegiatan terukur dan berkelanjutan.
Deklarasi Srikandi Ihsan Nusantara sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi perempuan lintas generasi dan wilayah untuk berbagi pengetahuan, memperkuat persaudaraan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.









