Banda Aceh – Prof. Adjunct Dr. Marniati, S.E., M.Kes., mengajak ulama, akademisi, organisasi Islam, dan berbagai kelompok dakwah memperkuat kolaborasi untuk menjawab tantangan umat. Seruan tersebut disampaikannya dalam momentum Muzakarah Internasional Tauhid Sufi 2026 yang berlangsung di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, pada 9–11 Oktober 2026.
Menurut Marniati, muzakarah internasional tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran ilmu dan penguatan spiritualitas, tetapi juga kesempatan membangun komunikasi serta kerja sama lintas organisasi demi kemaslahatan umat Islam.
Ia menilai, perbedaan pandangan dan metode dakwah perlu disikapi secara dewasa. Selama berorientasi pada kebaikan, perbedaan tidak seharusnya menghalangi kerja bersama dalam bidang pendidikan, sosial, pembinaan generasi muda, dan pemberdayaan masyarakat.
“Sudah saatnya kita memperkuat persaudaraan. Kita adalah umat Rasulullah SAW. Jangan sampai perbedaan pandangan dan jalan dakwah membuat kita saling menjauh, saling menuding, bahkan melemahkan satu sama lain. Mari kita duduk bersama, saling menguatkan, dan berjalan berdampingan untuk kemaslahatan umat,” ujar Marniati.
Ia berharap organisasi Islam dan majelis ilmu dapat membuka ruang dialog yang lebih luas, saling menghormati, serta mengembangkan program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Marniati juga menyoroti pentingnya peran dakwah dalam menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan kehidupan keluarga. Menurutnya, masyarakat membutuhkan keteladanan, penguatan moral, serta pendampingan yang mampu memberikan harapan dan solusi.
Karena itu, ia mendorong ulama, akademisi, dan tokoh agama agar tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan, peningkatan kesejahteraan, dan penanaman nilai-nilai akhlak kepada generasi muda.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari besarnya organisasi atau jumlah pengikut, melainkan juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Yang kita harapkan adalah gerakan yang saling menghidupkan, membantu, dan melengkapi. Kita tidak harus selalu sama dalam segala hal untuk bisa bekerja bersama. Yang terpenting, kita menjaga adab, menghormati perbedaan, dan mengutamakan kemaslahatan umat,” katanya.
Menurut Marniati, semangat keislaman perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, kepedulian sosial, dan akhlak mulia. Dengan demikian, dakwah dapat menjadi kekuatan yang mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus mendorong kemajuan umat.
Marniati berharap Muzakarah Internasional Tauhid Sufi 2026 menghasilkan tindak lanjut konkret berupa penguatan silaturahmi, pertukaran gagasan, dan kerja sama antarelemen Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia berharap forum ini membawa keberkahan serta memperluas kontribusi dakwah Islam bagi kemanusiaan.
“Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan menjadikan momentum ini sebagai jalan untuk mempererat persaudaraan umat Islam. Mari kita perkuat kasih sayang dan bergerak bersama demi kemajuan Islam di seluruh Nusantara hingga dunia,” pungkasnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai Islam perlu terus dihadirkan melalui sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, dan pengabdian yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.









