Banda Aceh – Informasi mengenai seorang pendemo yang disebut meninggal dunia dalam kericuhan Peringatan 21 Tahun Damai Aceh di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), belum terbukti dan perlu diluruskan.
Sebelumnya beredar sebuah foto seorang pria dalam kondisi terluka pada bagian wajah. Foto tersebut memperlihatkan luka pada dahi, sekitar mata, hidung, bibir dan pipi, dengan darah terlihat pada sejumlah bagian wajah. Dalam perkembangannya, foto tersebut dikaitkan dengan informasi bahwa yang bersangkutan meninggal dunia setelah kericuhan.
Namun, dokumentasi lain yang diterima LamanNews memperlihatkan sosok yang disebut sebagai orang dalam foto pertama berada dalam kondisi sadar dan beraktivitas. Foto kedua menunjukkan pria tersebut berdiri, mengenakan pakaian kaos, serta berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Perbedaan kondisi dalam kedua dokumentasi tersebut membuat informasi mengenai kabar kematian perlu ditinjau kembali. LamanNews belum menemukan konfirmasi resmi dari rumah sakit, keluarga, kepolisian atau pihak berwenang yang menyatakan bahwa pria tersebut meninggal dunia akibat kericuhan.
Karena itu, informasi mengenai adanya satu pendemo meninggal dalam peristiwa tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta.
Sebelumnya, kericuhan terjadi dalam rangkaian peringatan 21 tahun Damai Aceh di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Peristiwa tersebut melibatkan massa dan aparat keamanan setelah muncul pengibaran bendera bulan bintang. Polisi kemudian dilaporkan menggunakan gas air mata ketika situasi semakin tidak terkendali.
Dokumentasi dari lokasi juga menunjukkan adanya kendaraan yang rusak serta material berserakan di badan jalan. Sejumlah laporan media menyebut terdapat warga dan aparat yang mengalami luka dalam peristiwa tersebut, tetapi informasi mengenai korban meninggal perlu dibedakan secara tegas dari korban luka.
LamanNews menempatkan informasi mengenai korban meninggal sebagai informasi yang belum terverifikasi sampai terdapat keterangan resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Koreksi ini penting agar pemberitaan mengenai kericuhan Hari Damai Aceh tidak berkembang menjadi informasi keliru. Dalam situasi yang sensitif, terutama ketika menyangkut korban jiwa, setiap informasi harus melalui verifikasi berlapis sebelum dinyatakan sebagai fakta.









