Aceh Barat — Di Desa Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, karya sulaman kasab kembali menemukan napas baru melalui tangan kreatif Ema Mutiara Deka. Lewat usaha “Mutiara Kasab”, ia tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar.
Sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana, Ema menjalankan peran ganda: mendampingi suami yang bertugas di militer sekaligus mengembangkan usaha kreatif berbasis tradisi lokal.
Keterampilan menyulam kasab ia warisi secara turun-temurun, yang kemudian ia kembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Kasab Aceh dikenal dengan motif khas seperti Pucok Rebung, Pinto Aceh, dan Sulubayung yang sarat makna filosofis. Proses pembuatannya pun masih mempertahankan metode tradisional, mulai dari menggambar pola hingga penyulaman manual dengan ketelitian tinggi. Waktu pengerjaan bisa mencapai satu bulan, tergantung kompleksitas desain.
Dari usaha ini, lahir berbagai produk seperti pelaminan adat, perlengkapan peusijuek, busana, tas, hingga cinderamata. Produk tersebut kini telah dipasarkan hingga ke luar daerah, memperluas jangkauan pasar kerajinan kasab Aceh.
Lebih dari sekadar bisnis, “Mutiara Kasab” juga menjadi wadah pemberdayaan perempuan. Ema melibatkan ibu-ibu di lingkungan sekitarnya dalam proses produksi, membuka peluang penghasilan tambahan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.
Meski menghadapi tantangan seperti fluktuasi penjualan, Ema terus berinovasi melalui pemasaran digital dan partisipasi dalam pameran budaya. Upaya ini menjadi strategi untuk menjaga relevansi kasab di tengah arus modernisasi.
Kisah Ema mencerminkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal, sekaligus membuktikan peran perempuan sebagai motor perubahan di tingkat komunitas.









