Home / Editorial

Senin, 6 Juli 2026 - 13:40 WIB

Ketika Wilayatul Hisbah Masuk ke Ruang Digital

Foto: ilustrasi.

Foto: ilustrasi.

Editorial | LamanNews

“WH tidak perlu menjadi polisi syariah siber. Menjadi penegak hukum yang transparan sudah lebih dari cukup.”

Setiap lembaga penegak hukum memiliki satu modal yang tidak dapat dibeli :  Kepercayaan Publik. Modal itu tidak lahir dari luasnya kewenangan, melainkan dari kepastian batas kewenangan.

Karena itu, ketika muncul istilah “Polisi Syariah Siber”, mungkin yang perlu direnungkan bukan siapa yang pertama kali mengucapkannya. Yang lebih penting adalah mengapa istilah itu bisa tumbuh di ruang publik.

Bukankah persepsi sering kali lahir dari komunikasi yang tidak tuntas?

Wilayatul Hisbah selama ini dikenal sebagai aparat penegak qanun syariat. Tugasnya jelas, menegakkan aturan yang telah ditetapkan.

Namun ketika pengawasan mulai merambah media sosial dengan frasa “aktivitas yang dinilai tak wajar”, publik tentu berhak bertanya: apakah yang diawasi adalah dugaan pelanggaran hukum, atau perlahan-lahan ruang ekspresi warga?

Baca Juga |  OJK Perkuat Ketahanan Sistem Keuangan Nasional

Pertanyaan itu bukan bentuk perlawanan terhadap syariat. Justru sebaliknya, pertanyaan itu lahir agar penegakan syariat tetap berada dalam koridor hukum yang jelas, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Hukum bekerja berdasarkan norma, bukan rasa. Karena itu, istilah “tak wajar” semestinya diterjemahkan ke dalam indikator yang objektif. Sebab hukum yang bergantung pada tafsir yang terlalu lentur berisiko kehilangan kepastian, sementara kepastian hukum adalah fondasi utama keadilan.

Baca Juga |  Aceh di Tengah Gelombang Rusuh Nasional, Menjadi Pemain atau Penonton?

Barangkali Wilayatul Hisbah tidak pernah berniat menjadi apa yang oleh sebagian orang dijuluki sebagai “Polisi Syariah Siber”.

Namun dalam era digital, niat baik saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan mengenai dasar hukum, batas kewenangan, prosedur pengawasan, dan mekanisme akuntabilitas. Transparansi adalah cara paling efektif untuk mencegah lahirnya stigma.

Negara hukum tidak diukur dari seberapa banyak mata yang mengawasi warga. Negara hukum diukur dari seberapa jelas aturan yang membatasi penggunaan kekuasaan itu sendiri.

Baca Juga |  KPK Soroti Miliaran Dana Hibah Aceh Untuk Lembaga Vertikal Negara

Pada akhirnya, masyarakat tidak sedang meminta Wilayatul Hisbah mengurangi penegakan hukum. Masyarakat hanya berharap satu hal yang sederhana, jangan sampai layar ponsel menjadi tempat lahirnya rasa waswas, ketika seharusnya ia menjadi ruang yang tetap terlindungi oleh hukum, kepastian, dan kebebasan yang dijamin konstitusi.

Sebab syariat yang ditegakkan dengan kepastian hukum akan melahirkan “penghormatan”. Sebaliknya, syariat yang dipersepsikan hadir melalui bayang-bayang pengawasan tanpa batas justru berisiko melahirkan “kesalahpahaman yang tidak perlu”.

Arie Aseandi
Redaksi LamanNews

Editor:

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Kakanwil Ditjenpas Aceh Tegaskan Zero Halinar

Editorial

Hari Anak Nasional 2026, “Ketika Anak-Anak Aceh Menunggu Negeri Menepati Janji”
Sarjana melamar pekerjaan

Editorial

Hari Populasi Sedunia Menguji Janji Lapangan Kerja Pemerintah Aceh

Editorial

WH, TikTok, dan Ujian Integritas

Editorial

Aceh Timur dan Babak Baru Partai Aceh
KPK sorot Dana Hibah Aceh

Editorial

KPK Soroti Miliaran Dana Hibah Aceh Untuk Lembaga Vertikal Negara
Women day 2026

Editorial

‎Women’s Day dan Jalan Panjang Hak Perempuan Aceh

Editorial

Perang Iran vs Israel, Ancaman Resesi dan Peta Politik Dunia Baru