Home / Editorial

Minggu, 7 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Darurat Nasional Digantung Tanpa Penjelasan

Ilustrasi AI

Ilustrasi AI

Editorial | LamanNews

Pemerintah Indonesia Gantung Status Bencana Nasional, Elemen Sipil Aceh Desak Jalan Politik Alternatif

Aceh kembali berada di persimpangan sejarah. Delapan hari setelah banjir dan longsor melumpuhkan sebagian besar wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, Pemerintah Indonesia belum juga menetapkan status darurat bencana nasional. Sementara waktu berjalan, ribuan warga tetap terisolasi, dan bantuan yang dijanjikan negara berhenti di bandara—terperangkap oleh minimnya armada udara dan infrastruktur darat yang porak-poranda.

Di tengah situasi genting ini, suara publik mulai membesar. Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh, Alfian, menilai pemerintah telah gagal menjalankan kewajibannya untuk melindungi warga negara dalam kondisi krisis kemanusiaan yang terang-benderang di lapangan.

Baca Juga |  Hari Populasi Sedunia Menguji Janji Lapangan Kerja Pemerintah Aceh

“Ini bukan soal gengsi nasional. Ini soal nyawa. Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berhadapan dengan bencana berlapis, dan pemerintah masih membiarkan status mengambang,” ujarnya.

Alfian tak berhenti di situ. Ia menyebut bahwa jika Pemerintah Indonesia tetap berdiam diri, Aceh harus mempertimbangkan jalan politik yang lebih tegas, termasuk evaluasi hubungan Aceh–Jakarta melalui mekanisme referendum.

Menurutnya, ketidakpedulian negara tampak jelas dari carut-marutnya distribusi bantuan. Logistik menumpuk di bandara—tidak bergerak karena pemerintah tidak memiliki cukup helikopter untuk menjangkau titik-titik terparah. Setelah banjir, Aceh kini menghadap bencana berikutnya: kekurangan pangan, akses kesehatan terbatas, dan ancaman kematian akibat isolasi berkepanjangan.

Baca Juga |  Aceh Timur dan Babak Baru Partai Aceh

“Di depan mata pemerintah, rakyat menghadapi kelaparan. Ini bukan lagi kegagalan teknis; ini kegagalan moral,” katanya.

Alfian menilai pemerintah seperti lebih peduli pada kalkulasi politik ketimbang rasa kemanusiaan. Penolakan bantuan asing semakin memperburuk situasi. “Kalau negara tidak siap, biarkan dunia internasional membantu. Ini bukan ujian prestise.”

Dalam kondisi ini, wacana referendum kembali mengemuka. Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai seruan evaluasi menyeluruh atas hubungan yang dirasa tidak seimbang.

Baca Juga |  R3P Aceh Diserahkan ke Pusat, Pemulihan Butuh Rp153,3 Triliun

“Jika negara tak peduli, Aceh harus bicara. Kita tidak bisa terjebak dalam hubungan yang hanya memberatkan satu pihak,” tambahnya.

Krisis kali ini tidak hanya menguji kesiapan negara menghadapi bencana, tetapi juga menguji kualitas relasi politik yang telah dibangun selama dua dekade terakhir. Aceh menunggu langkah negara. Waktu terus berjalan. Dan sejarah selalu mencatat siapa yang hadirdan siapa yang memilih berpaling.

Misriani
LamanNews

Editor:

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Kakanwil Ditjenpas Aceh Tegaskan Zero Halinar

Editorial

Hari Anak Nasional 2026, “Ketika Anak-Anak Aceh Menunggu Negeri Menepati Janji”
Sarjana melamar pekerjaan

Editorial

Hari Populasi Sedunia Menguji Janji Lapangan Kerja Pemerintah Aceh

Editorial

WH, TikTok, dan Ujian Integritas
Polisi Syariah Siber di negeri syariat.

Editorial

Ketika Wilayatul Hisbah Masuk ke Ruang Digital

Editorial

Aceh Timur dan Babak Baru Partai Aceh
KPK sorot Dana Hibah Aceh

Editorial

KPK Soroti Miliaran Dana Hibah Aceh Untuk Lembaga Vertikal Negara
Women day 2026

Editorial

‎Women’s Day dan Jalan Panjang Hak Perempuan Aceh