Aceh Selatan — Sereh wangi sebagai komoditas unggulan di Aceh Selatan terus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui inovasi UMKM. Salah satunya dilakukan oleh Sinar Hayani melalui usaha Padusi Tapa.
Sejak 2020, anggota Persit Kartika Chandra Kirana ini mulai mengolah sereh wangi menjadi minyak atsiri dan berbagai produk turunan untuk memperluas nilai ekonomi komoditas lokal.
Proses produksi masih dilakukan secara tradisional, dengan merebus 7–8 kilogram sereh selama sekitar 12 jam untuk menghasilkan minyak, yang kemudian didiamkan agar terpisah dari air dan kotoran.
Seiring berkembangnya usaha, Padusi Tapa menghadirkan beragam produk seperti minyak sereh wangi, lilin aromaterapi, sabun, cairan pembersih lantai, hingga sabun cuci piring berbasis sereh. Produk minyak sereh tetap menjadi unggulan, sementara produk aromaterapi diminati kalangan muda.
Inovasi juga terus dilakukan, salah satunya melalui peluncuran produk roll-on sereh berdasarkan masukan konsumen. Pemasaran saat ini masih mengandalkan jaringan internal, mitra lokal, serta promosi melalui media sosial.
Dari sisi legalitas, produk ini telah mengantongi izin P-IRT sejak 2023 dan tengah dalam proses pengurusan sertifikasi BPOM.
Selain aspek bisnis, UMKM ini juga berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok usaha, yang berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga.
Dalam tiga bulan terakhir, penjualan mencapai sekitar 120 produk dengan omzet Rp4–5 juta, menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Padusi Tapa dinilai menjadi contoh sinergi antara pelestarian potensi lokal dan pemberdayaan perempuan, sekaligus membuka peluang penguatan pasar produk sereh wangi Aceh Selatan di tingkat nasional.









