Banda Aceh – Puluhan perempuan muda dari berbagai komunitas di Aceh memperingati Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day/IWD) 2026 dengan menggelar diskusi bertema “Ruang Aman: Bicara Lebih Dalam tentang Tubuh Perempuan” di Banda Aceh, Minggu (8/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Fomo Cafe, Lampriet itu diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai komunitas perempuan, di antaranya Flower Aceh, LETO, serta Sekolah HAM Perempuan. Diskusi tersebut diinisiasi oleh FAMM Indonesia bersama Aliansi Perempuan Indonesia sebagai bagian dari rangkaian peringatan IWD tahun ini.
Diskusi dilakukan menggunakan metode safe space atau ruang aman. Dalam sesi tersebut, setiap peserta menerima kartu yang berisi pertanyaan maupun pernyataan untuk kemudian dibahas bersama berdasarkan pengalaman dan pandangan masing-masing peserta.
Perwakilan FAMM Indonesia di Aceh, Fatin, mengatakan bahwa peringatan IWD tahun ini mengangkat tema besar “Perempuan Bersatu: Melawan Penghancuran atas Tubuh.”
Menurutnya, tubuh perempuan sering kali menjadi ruang berbagai bentuk ketidakadilan. Mulai dari kekerasan berbasis gender, dampak kerusakan lingkungan yang memperberat beban hidup perempuan, hingga ketidakpastian pekerjaan yang membuat perempuan lebih rentan terhadap kemiskinan dan eksploitasi.
“Melalui diskusi dengan metode ruang aman ini, kami ingin berbicara lebih dalam tentang tubuh perempuan,” kata Fatin.
Ia menambahkan bahwa diskusi berlangsung terbuka dan reflektif. Para peserta berbagi pengalaman serta pandangan yang menjadi pembelajaran bagi perempuan muda yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Harapannya, ruang seperti ini dapat membantu perempuan muda di Aceh untuk lebih memahami dirinya, sembuh dari luka batin, terhindar dari kekerasan, dan terus bersinar,” ujarnya.
Kepala Sekolah HAM Perempuan, Gaby, yang juga bertindak sebagai moderator diskusi, mengatakan bahwa Hari Perempuan Sedunia merupakan momentum penting bagi perempuan untuk merayakan identitas sekaligus kekuatan mereka.
Menurutnya, selama ini tubuh perempuan masih kerap dipandang sebagai objek, bukan sebagai sesuatu yang harus dihargai dan dilindungi.
“Padahal perempuan memiliki hak dasar atas tubuhnya sendiri dan berhak untuk dihormati,” kata Gaby.
Selain diskusi, kegiatan tersebut juga diisi dengan sejumlah aktivitas interaktif untuk memperkuat solidaritas antarperempuan. Salah satunya melalui sesi tukar kado antar peserta yang dilakukan secara acak sebagai simbol dukungan dan kebersamaan.
Anggota FAMM sekaligus LETO, Febby, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi perempuan untuk membangun koneksi dan dukungan bersama.
“Dalam perjuangan ini kita tidak berjalan sendirian. Kita saling menjaga dan menguatkan satu sama lain,” ujarnya.
Salah satu peserta, Alma, mengaku kegiatan tersebut membuatnya semakin termotivasi untuk terlibat dalam upaya pemberdayaan perempuan.
Selain berdiskusi, para peserta juga membuat konten kampanye dukungan terhadap perempuan dengan menampilkan tokoh publik yang berpihak pada perjuangan perempuan. Kampanye tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghargai tubuh serta hak-hak perempuan.








