Home / Banda Aceh / Lingkungan

Selasa, 24 Maret 2026 - 20:22 WIB

Aliansi Mahasiswa Aceh Kritik Klaim Pemulihan Banjir 100 Persen

Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Se-Aceh, Misbah Hidayat. (Foto: Dok/Ist).

Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Se-Aceh, Misbah Hidayat. (Foto: Dok/Ist).

Banda Aceh – Klaim pemerintah pusat yang menyebut tidak ada lagi pengungsi banjir di Aceh, bahkan disebut telah “100 persen” keluar dari tenda, menuai kritik keras dari kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil.

Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Se-Aceh, Misbah Hidayat, menilai pernyataan tersebut tidak sekadar keliru, tetapi berpotensi menyesatkan publik karena tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

“Ketika negara menyatakan tidak ada pengungsi, sementara ribuan warga masih tinggal di tenda, itu bukan lagi kesalahan data. Itu manipulasi realitas,” ujar Misbah, 22 Maret 2026.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Maret 2026, masih terdapat sekitar 5.000 hingga 6.000 jiwa yang bertahan di pengungsian di sejumlah wilayah terdampak banjir, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Timur.

Baca Juga |  PIKABAS Bank Aceh Turun ke Lokasi Banjir, Fokus Logistik dan Kesehatan

Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi resmi pemerintah dan kondisi faktual di lapangan. Sejumlah laporan lapangan juga mengindikasikan bahwa sebagian pengungsi masih menghadapi keterbatasan akses hunian sementara, layanan kesehatan, dan fasilitas pendidikan.

Penggunaan diksi “100 persen”, menurut Misbah, bukan sekadar pilihan kata, tetapi memiliki implikasi besar terhadap persepsi publik. Klaim absolut tersebut dinilai berpotensi menutup ruang kritik serta mengaburkan urgensi penanganan bencana yang belum tuntas.

Baca Juga |  YABANI dan Kak Bimo Gelar Roadshow YABANI Berkisah di Aceh Timur, Bangkitkan Ketangguhan Anak Aceh

“Kalimat itu menciptakan kesan seolah krisis sudah selesai. Padahal, realitasnya belum,” katanya.

Sejumlah pihak juga menyoroti adanya kecenderungan narasi optimistis yang tidak diimbangi dengan transparansi data. Dalam beberapa kasus, kondisi darurat disebut-sebut dipresentasikan sebagai situasi terkendali, sementara persoalan mendasar seperti distribusi bantuan dan pembangunan hunian belum sepenuhnya terselesaikan.

Di lapangan, warga terdampak dilaporkan masih menjalani kehidupan dalam keterbatasan, termasuk menjelang Idul Fitri. Sebagian masih tinggal di tenda darurat yang seharusnya bersifat sementara, dengan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas koordinasi penanganan bencana serta akurasi pelaporan dari tingkat daerah hingga pusat.

Baca Juga |  OJK Ungkap Ketahanan Industri Keuangan Aceh di Tengah Krisis Iklim

Aliansi Mahasiswa Se-Aceh menegaskan bahwa transparansi dan akurasi data menjadi kunci dalam memastikan kebijakan penanganan bencana tepat sasaran. Mereka juga mendesak pemerintah untuk membuka ruang evaluasi publik terhadap klaim-klaim yang disampaikan.

“Rakyat tidak membutuhkan narasi yang menenangkan, tetapi kejujuran dan tindakan nyata,” tegas Misbah.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi terkait perbedaan antara klaim pemerintah dan data lapangan tersebut.

Namun, perdebatan ini menunjukkan pentingnya pengawasan publik dalam memastikan proses pemulihan pasca bencana berjalan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Reporter: ,
Editor:

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Wagub Aceh Dorong Penguatan Pendidikan Dayah
Silahturahmi MAA ke Kapolda aceh

Banda Aceh

Kapolda Aceh dan MAA Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Cambuk

Banda Aceh

Dari Hotel Ayani ke Taman Sari: Jejak Kasus Pale, Dari Penangkapan, Penangguhan hingga Vonis Cambuk
Bhakti sosial sip 56

Banda Aceh

Siswa SIP Angkatan 56 Polda Aceh Gelar Baksos di Panti Asuhan
Bank Aceh dan Taspen

Banda Aceh

Bank Aceh Dan Taspen Bekali ASN Jelang Pensiun
Hut purnawirawan Polri

Banda Aceh

Purna Bakti Bukan Akhir Pengabdian, Pesan Irjen Pol. Ruddi Setiawan
Dialog multipihak, FJL dan HAkA

Gayo Lues

Tanah Gayo Terancam Tambang, Kolaborasi Jadi Solusi
Ultimatum penambang ilegal

Banda Aceh

Mualem Tegaskan Tidak Ada Toleransi bagi Penambang Ilegal Setelah 17 Agustus