Banda Aceh — Peringatan Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus 2026 di Aceh diwarnai kabar duka. Dalam rentang waktu hanya dua hari, dua individu gajah sumatera dilaporkan mati dalam kondisi berbeda, masing-masing seekor gajah jantan liar di Aceh Tamiang dan anak gajah jinak bernama Yuna di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar.
Kematian dua satwa dilindungi tersebut memicu desakan Forum Jurnalis Lingkungan dan Jaringan Gajah Nusantara agar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan dan kesehatan gajah, sekaligus membuka informasi hasil pemeriksaan kepada publik.
Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan, Hidayatullah, mengatakan gajah jantan ditemukan mati pada 9 Agustus 2026 sekitar pukul 12.00 WIB di areal perkebunan sawit milik PT MPLI, Gampong Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang.
Bangkai gajah ditemukan tergeletak di jalur perkebunan dengan kedua gading masih utuh dan tidak terlihat luka pada tubuhnya. Pemeriksaan awal mengarah pada dugaan keracunan. Satwa tersebut diperkirakan telah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan.
Dua hari kemudian, kabar duka kembali datang dari PLG Saree. Yuna, anak gajah jinak berusia sekitar tiga tahun, mati setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan secara cepat pada Selasa (11/8).
Pada pagi hari, Yuna masih terpantau aktif seperti biasa. Namun menjelang sore, mahout atau pawang menemukan Yuna dalam kondisi lemas, dengan mata dan wajah membengkak serta lidah tampak pucat kebiruan.
Tim medis kemudian memberikan penanganan. Namun kondisi Yuna terus memburuk hingga akhirnya mati pada pukul 20.48 WIB.
Dugaan sementara mengarah pada infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), penyakit yang dikenal dapat menyerang anak gajah dan berkembang secara cepat. Dugaan tersebut, menurut kelompok konservasi, perlu dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.
“ Kematian dua gajah ini menambah kekhawatiran terhadap tren populasi gajah sumatera yang terus menurun. Populasi gajah sumatera di Aceh sendiri sebelumnya diperkirakan hanya berkisar 500 individu,” kata Hidayatullah dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8).
Forum Jurnalis Lingkungan mencatat, dalam empat tahun terakhir sedikitnya terdapat 23 kasus kematian gajah di seluruh Aceh. Penyebabnya beragam, mulai dari perburuan hingga konflik antara manusia dan satwa.
Hidayatullah menilai kematian gajah jinak yang berulang di PLG Saree tidak semestinya hanya dijelaskan dari aspek medis setelah satwa mati. Menurut dia, sistem pencegahan, pengawasan, deteksi dini, hingga penanganan kesehatan satwa perlu dievaluasi secara serius.
“Kami mendesak BKSDA Aceh membuka riwayat kesehatan gajah, hasil nekropsi, serta hasil pemeriksaan laboratorium secara bertanggung jawab kepada publik,” ujarnya.
Ia menegaskan, setiap individu gajah memiliki arti penting bagi upaya konservasi, terlebih gajah sumatera kini berada dalam kondisi sangat terancam.
“Satu individu gajah mungkin tampak kecil dalam angka populasi, tetapi bagi konservasi, setiap nyawa sangat berarti. Pencegahan dan deteksi dini, bukan penjelasan setelah kematian terjadi, yang seharusnya menjadi prioritas,” tegasnya.
Sementara itu, Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Publikasi Jaringan Gajah Nusantara, Yulham, menyoroti pentingnya keterbukaan informasi sejak awal, bukan hanya setelah satwa ditemukan mati.
Ia meminta dugaan EEHV pada Yuna dibuktikan secara ilmiah melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Selain itu, BKSDA Aceh didorong menjelaskan langkah biosekuriti yang telah diterapkan untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit kepada gajah lainnya di PLG Saree.
Menurut Yulham, kematian gajah di Aceh Tamiang dan PLG Saree pada dasarnya memperlihatkan persoalan yang sama, yakni semakin besarnya ancaman terhadap keselamatan populasi gajah sumatera, baik di habitat liar maupun dalam pengelolaan manusia.
Karena itu, ia mendorong BKSDA Aceh tidak hanya melakukan pemeriksaan internal, tetapi juga membuka ruang evaluasi independen dengan melibatkan dokter hewan satwa liar, pakar gajah, akademisi, dan organisasi konservasi.
“Kematian gajah jinak Yuna dan gajah di Aceh Tamiang harus menjadi momentum, bukan sekadar duka yang berlalu begitu saja. Kami berharap BKSDA Aceh memperkuat sistem kesehatan dan biosekuriti, memperketat pengawasan di kawasan rawan konflik seperti perkebunan sawit, serta memastikan seluruh informasi terkait kondisi dan penanganan gajah dapat diakses publik secara terbuka,” pungkas Yulham.









