Home / Banda Aceh / Lingkungan

Jumat, 26 Desember 2025 - 10:44 WIB

Fajran Zain: Negara Hampir Tidak Hadir, Rakyat Aceh Dibiarkan Berjuang Sendiri

Aktivis kemanusiaan Fajran Zain menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana Aceh. (Foto: Dok)

Aktivis kemanusiaan Fajran Zain menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana Aceh. (Foto: Dok)

Banda Aceh — Aktivis kemanusiaan sekaligus mantan Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, Fajran Zain, menyatakan bahwa munculnya aksi damai di Aceh merupakan dampak langsung dari kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang hampir tidak hadir dalam penanganan bencana alam.
‎
‎Dalam wawancara pada Kamis, 25 Desember 2025, Fajran menegaskan bahwa hingga sebulan pascabencana, penanganan pemerintah sangat lambat dan tidak masif. Ia menyebut desakan masyarakat agar Aceh ditetapkan sebagai status bencana nasional tidak digubris secara serius, sementara kondisi di lapangan terus memburuk.
‎
‎Fajran menyoroti pernyataan-pernyataan pemerintah yang dinilainya tidak sensitif dan cenderung menyesatkan, seperti klaim bahwa kondisi hanya “mencekam di media sosial”, janji pemulihan listrik total, hingga pernyataan-pernyataan yang dianggap mempermainkan perasaan rakyat.

‎“Rakyat hari ini tidak bisa lagi ditipu. Masyarakat sudah melek politik dan memahami bahwa bencana yang terjadi merupakan akibat dari kerakusan oligarki pejabat,” tegas Fajran.

Ia menyebut perusahaan-perusahaan perusak lingkungan yang memicu bencana justru dimiliki oleh pejabat itu sendiri.
‎
‎Menurutnya, tuntutan masyarakat saat ini sederhana namun mendasar, yakni percepatan pemulihan pascabencana yang terstruktur, ketersediaan dana yang cukup, serta pembangunan kembali yang layak. Namun pemerintah justru membuat rakyat Aceh berada dalam posisi serba salah.
‎
‎Fajran mengkritik kebijakan pelarangan bantuan asing, pembatasan ruang gerak aktivis kemanusiaan, serta pengetatan administrasi bantuan oleh Kementerian Sosial dan Kementerian Dalam Negeri.

“Dalam kondisi darurat, masyarakat malah dikekang dan saat ini warga bukan mati karena tenggelam, tetapi karena lapar, haus, dan sakit,” ujarnya.

Fajran juga menyesalkan sikap represif pemerintah yang menggunakan pendekatan kekerasan dan militeristik dalam merespons situasi.

‎“Pendekatan ini mengingatkan kita pada kekerasan masa lalu di Aceh. Aceh tidak bisa didekati dengan kekerasan. Dulu rakyat melawan karena ketidakadilan, hari ini pun sama, hanya konteksnya berbeda,” kata Fajran.

Ia menyebut, jika dahulu ketidakadilan terjadi pascakonflik, kini ketidakadilan muncul pascabencana, ketika negara seolah membiarkan rakyatnya bertahan sendiri. Menurut Fajran, kondisi ini merupakan pelanggaran HAM berat karena negara gagal melindungi hak hidup warganya.
‎
‎“Pembiaran ini akan memicu sikap perlawanan baru dan berpotensi berlangsung terus-menerus jika pemerintah tetap tidak berubah,” pungkasnya.

Baca Juga |  BSI Salurkan Rp24 Triliun, Bea Cukai Dorong UMKM Naik Kelas
Baca Juga |  Ditreskrimsus Polda Aceh Usut Kasus Perambahan Hutan Bireuen

Reporter: ,
Editor:
Baca Juga |  Ironi MBG Ramadan, Jatah Dipangkas dan Distribusi Tersendat

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Pangdam IM Buka Indonesia Fest 2026

Banda Aceh

Kapolda Aceh Ikuti Ngaji Kebangsaan Bersama Gus Baha
Marnia kosmetik produk.

Banda Aceh

Marnia Kenalkan Kosmetik Lokal di Wisuda UUI
Ketua Yayasan Ubudiyah Indonesia Prof Marniati

Banda Aceh

Prof. Adjunct Marniati: Ikhtiar, Kejujuran, dan Ridha Allah Menjadi Jalan Kesuksesan
Wisuda Universitas Ubudiyah Indonesia

Banda Aceh

310 Mahasiswa UUI Diwisuda, Prof Marniati: Lulusan UUI Harus Terus Belajar

Banda Aceh

Pangdam IM Buka Lomba PBB SLTA Se-Aceh

Banda Aceh

Wagub Dek Fadh Kumpulkan Forkopimda Bahas Kondisi Aceh

Banda Aceh

Polresta Banda Aceh Tangkap Terduga Penggelap Motor TNI