Bener Meriah – Konflik antara gajah liar dan manusia di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, semakin berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Sedikitnya 13 sekolah terpaksa menghentikan sementara pembelajaran tatap muka menyusul meningkatnya ancaman pergerakan kawanan gajah liar di kawasan permukiman.
Penghentian aktivitas belajar tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik. Pasalnya, kawanan gajah liar dilaporkan kerap melintasi kawasan permukiman, bahkan pada siang hari.
Tim Advokasi Jaringan Gajah Nusantara (JGN) Aceh, Yulham, mengatakan konflik yang terus berulang tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap hak pendidikan anak-anak di wilayah terdampak.
Saat mengunjungi lokasi pada Sabtu (7/11/2026), pihaknya menemukan sejumlah sekolah dalam kondisi sepi. Kegiatan pembelajaran hanya berlangsung secara daring dengan guru tetap memberikan materi kepada siswa.
“Kami melihat langsung kondisi di Bener Meriah. Aktivitas sekolah sepi, hanya ada guru yang memberikan materi pembelajaran secara daring. Sangat disayangkan jika kondisi ini terus berlanjut karena anak-anak tidak bisa bersekolah akibat konflik satwa dan manusia,” kata Yulham.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Tengah Forum Jurnalis Lingkungan (FJL), Yusradi, menilai konflik gajah dan manusia di kawasan tersebut bukan persoalan baru. Konflik yang terus berulang bahkan telah mengakibatkan korban jiwa, baik dari manusia maupun gajah sumatera.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan. Upaya penyelesaian tidak cukup hanya dilakukan ketika konflik terjadi, tetapi harus menyentuh akar persoalan agar keselamatan masyarakat dan kelestarian satwa dapat berjalan beriringan.
“Konflik ini sudah lama terjadi. Belum terlihat penyelesaian yang memberikan dampak jangka panjang. Beberapa waktu lalu juga ada hibah lahan Presiden Prabowo untuk konservasi gajah sumatera di wilayah ini, tetapi setelah kami pantau, hasilnya belum terlihat baik,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Bener Meriah melalui Plt. Bidang Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar), Saidi, menyampaikan bahwa wilayah terdampak konflik gajah telah ditetapkan dalam kondisi darurat belajar selama 14 hari.
Penghentian sementara pembelajaran tatap muka telah diberlakukan sejak Kamis, 5 November 2026. Kebijakan tersebut akan dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan situasi keamanan di lapangan.
“Sampai hari ini sekolah masih diliburkan sejak Kamis, Jumat, hingga Sabtu. Untuk Senin nanti kita lihat perkembangannya. Hari ini juga akan kita pantau kembali,” jelas Saidi.
Adapun 13 satuan pendidikan yang terdampak kebijakan tersebut meliputi SD Negeri Kalung SP 1, SD Negeri Pantan Lah, SD Negeri Antara 40, SD Negeri Dirgantara KM 38, SD Negeri Pantan Sinaku, SD Negeri Ulu Naron, SD Negeri Tran Teget SP 2, SD Negeri Pancar Jelobok, SMP Negeri 5 Satu Atap Pancar Jelobok, SMP Negeri 2 Pintu Rime Gayo KM 40, SMP Negeri 4 Pintu Rime Gayo, MTsN Blang Rakal, dan MIS Blang Rakal.
Kecamatan Pintu Rime Gayo merupakan salah satu kawasan yang kerap dilalui kawanan gajah liar. Pergerakan satwa pada siang maupun malam hari meningkatkan risiko pertemuan langsung dengan masyarakat.
Dinas Pendidikan dan Kantor Wilayah Kementerian Agama menempatkan keselamatan peserta didik sebagai prioritas. Mengingat anak-anak belum sepenuhnya memahami risiko saat berhadapan dengan satwa liar, penghentian sementara pembelajaran tatap muka dinilai menjadi langkah pencegahan untuk menghindari jatuhnya korban.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa konflik gajah dan manusia bukan sekadar persoalan satwa liar, melainkan juga menyangkut keselamatan warga, keberlangsungan pendidikan, dan kelestarian lingkungan. Diperlukan langkah penanganan jangka panjang melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan lembaga konservasi agar anak-anak dapat kembali belajar dengan aman tanpa mengabaikan perlindungan gajah sumatera.









