Takengon — Bencana tanah longsor kembali melanda wilayah Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di Desa Sanihen, Kecamatan Silih Nara, pada Senin sore. Peristiwa ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan lima lainnya mengalami luka-luka.
Kejadian tersebut terjadi di tengah meningkatnya intensitas hujan sejak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan Provinsi Aceh dalam status siaga banjir pada 2 September 2026. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir diduga menjadi pemicu utama terjadinya longsor di kawasan tersebut.
Selain menimbulkan korban jiwa, material longsor juga menutup sejumlah akses jalan menuju beberapa desa di sekitar lokasi kejadian. Akibatnya, mobilitas warga terganggu dan proses evakuasi serta distribusi bantuan menjadi terhambat.
Hingga saat ini, tim gabungan bersama relawan masih terus melakukan penanganan di lapangan, termasuk evakuasi korban, pembersihan material longsor, serta membuka kembali jalur yang terdampak. Kondisi di lokasi dilaporkan masih rawan, mengingat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpotensi terjadi.
Seorang relawan di Posko Rakyat, Azir, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya membantu masyarakat terdampak di tengah keterbatasan yang ada.
“Kami yang berada di lapangan hanya bisa terus bergerak, membantu sebisa mungkin, dan berharap kondisi segera membaik. Semoga tidak ada lagi korban,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut mendoakan keselamatan para korban dan seluruh tim yang sedang bertugas di lokasi bencana.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.
Diharapkan kondisi cuaca segera membaik, akses transportasi dapat kembali normal, serta masyarakat yang terdampak diberikan keselamatan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.









