Banda Aceh – Natural Aceh akan membawa pengalaman pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir Aceh ke forum internasional yang diselenggarakan AVPN pada November 2026. Keterlibatan tersebut mencakup forum pengembangan kewirausahaan perempuan di Jakarta dan lokakarya kepemimpinan global di Bali.
Kepada LamanNews, Direktur Natural Aceh, Zainal Abidin Suarja, mengatakan akan dijadwalkan menjadi narasumber dan panelis dalam forum Accelerating Women’s Entrepreneurship & Unlocking Funding for Women’s Economic Empowerment pada 5 November 2026 di Shangri-La Jakarta. Sementara itu, Manager Program Natural Aceh, Sarah Aprilia, dijadwalkan mengikuti Global Leadership Academy (GLA) Workshop di Bali pada 3–5 November 2026, Senin (19/10/2026).
Partisipasi tersebut menjadi kesempatan bagi Natural Aceh untuk berbagi pengalaman pemberdayaan perempuan, memperluas jejaring, dan menjajaki peluang kolaborasi lintas organisasi.
Dalam forum pemberdayaan ekonomi perempuan atau Women’s Economic Empowerment (WEE), Zainal dijadwalkan tampil pada sesi Impact Spotlight: Champions of Women’s Entrepreneurship pukul 10.15–10.35 WIB. Ia juga dijadwalkan menjadi panelis dalam sesi Forging the Path: Founder, Funder, Advisor and Government pukul 10.35–11.20 WIB.
Forum itu membahas tantangan pengembangan usaha perempuan, termasuk akses pendanaan, pendampingan bisnis, peran pemerintah, serta kolaborasi organisasi masyarakat dan sektor swasta.
Salah satu pengalaman yang akan dibagikan berkaitan dengan pemberdayaan perempuan di Alue Naga, Banda Aceh. Natural Aceh mendukung perempuan yang sebelumnya mengandalkan pengumpulan tiram untuk mengembangkan usaha budidaya dan pengolahan hasil laut menjadi produk bernilai tambah.
Produk seperti keripik, kerupuk, nugget, dan bubuk tiram membuka peluang diversifikasi usaha sekaligus memperluas pemasaran. Pendekatan tersebut mendorong perempuan mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai produk pesisir, bukan hanya sebagai pengumpul hasil alam.
Upaya ekonomi tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan. Ekosistem mangrove berperan melindungi garis pantai, menyediakan habitat organisme pesisir, dan menopang sumber daya alam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pengalaman lainnya dikembangkan melalui inisiatif Pasar Laut Aceh yang mendukung sekitar 300 istri nelayan di Leupung, Lamteungoh, dan Pulo Aceh dalam memasarkan produk lokal, seperti ikan asin, garam, dan kelapa.
Menurut Natural Aceh, peningkatan keterampilan produksi perlu disertai akses pasar, jaringan pemasaran, dan kemitraan agar produk lokal memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Sementara itu, partisipasi Sarah Aprilia dalam GLA Workshop diharapkan memperkuat kapasitas kepemimpinan, memperluas pembelajaran lintas negara, dan mendukung pengembangan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Perempuan di wilayah pesisir memiliki pengetahuan, keterampilan, dan potensi ekonomi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan potensi tersebut dengan pasar dan peluang usaha yang lebih luas. Kami juga perlu memastikan bahwa pengembangan ekonomi berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan,” ujar Zainal Abidin Suarja.
Melalui kedua agenda tersebut, Natural Aceh berharap dapat memperkuat kapasitas organisasi, memperluas kemitraan, dan mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan yang lebih inklusif serta berkelanjutan.









