Aceh Tamiang — Di tengah puing bencana banjir dan terjangan gelondongan kayu, secercah harapan hadir dari Posko Kedua YABANI (Yayasan Bina Anak Usia Dini) yang berpusat di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Posko tersebut berlokasi di sebuah pesantren yang sebelumnya terdampak parah akibat timbunan kayu besar pascabanjir, Jumat (26/12/2025).
Di lokasi ini, para relawan YABANI bersama Bunda PAUD Intan Payong menghadirkan aktivitas bermain dan edukasi ringan bagi anak-anak pengungsi. Suasana pesantren yang sempat mencekam kini berubah lebih hangat, dipenuhi tawa anak-anak yang mencoba melupakan trauma bencana.

YABANI secara khusus menyalurkan bantuan yang difokuskan untuk kebutuhan anak-anak, mulai dari perlengkapan dasar hingga goodie bag yang dibagikan kepada anak-anak yang berhasil menjawab pertanyaan dalam permainan interaktif yang dipandu Bunda PAUD Intan Payong. Pendekatan ini dilakukan untuk memulihkan kondisi psikososial anak-anak yang terdampak langsung bencana.
Puluhan anak-anak dari sekitar pesantren yang dikenal sebagai salah satu titik terparah terdampak bencana alam terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Meski kehilangan rumah, pakaian sekolah, hingga tempat belajar, mereka masih mampu tersenyum dan bermain—sebuah pemandangan yang mengundang haru sekaligus apresiasi.
“Yang paling menyentuh, anak-anak ini masih bisa tertawa dan bermain, padahal mereka kehilangan banyak hal penting dalam hidupnya,” ujar Dhulhadi Ketua Posko Relawan YABANI di lokasi.
Sementara itu, Adi, warga Desa Tanjung Karang, mengungkapkan bahwa bencana terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, air mulai naik sekitar waktu magrib dan memaksa warga bergegas menyelamatkan diri.
“Air naik cepat sekitar magrib. Malam itu kami lari ke Dusun Bukit. Kayu-kayu besar baru hanyut ke kampung keesokan paginya,” kata Adi.
Ia menambahkan, sekitar ratusan rumah di wilayah tersebut terdampak banjir. Meski seluruh warga selamat, kondisi semakin sulit karena air kembali naik hingga ke lokasi pengungsian sehari setelah kejadian.
“Alhamdulillah semua selamat, tapi air juga sempat sampai ke tempat kami mengungsi,” ujarnya.
Kehadiran relawan dan ruang ramah anak di tengah situasi darurat ini menjadi bukti bahwa penanganan bencana tidak hanya soal logistik, tetapi juga tentang menjaga harapan dan masa depan anak-anak yang menjadi korban paling rentan.








