Lhokseumawe — Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Kuta Pase menegaskan bahwa perhatian publik dan negara tidak boleh dialihkan dari persoalan utama yang tengah dihadapi rakyat Aceh, yakni dampak banjir besar yang melanda hampir seluruh wilayah provinsi tersebut.
Juru Bicara KPA Kuta Pase, Halim Abe, menyampaikan bahwa pengibaran Bendera Aceh dan bendera putih dalam arak-arakan bantuan maupun aksi solidaritas di sejumlah titik harus dipahami sebagai bentuk empati dan keprihatinan mendalam masyarakat terhadap kondisi kemanusiaan yang kian memburuk akibat bencana.
Menurut Halim, banjir telah menyebabkan kerusakan infrastruktur publik, melumpuhkan aktivitas ekonomi warga, serta mengakibatkan hilangnya nyawa dan tempat tinggal masyarakat.
Dalam situasi darurat seperti ini, ekspresi kolektif masyarakat merupakan hal yang wajar ketika keadilan dan keseriusan penanganan bencana belum sepenuhnya dirasakan.
“Aksi ini harus dipahami sebagai ekspresi aspirasi rakyat. Ini bukan sekadar simbol, melainkan suara kekecewaan terhadap status dan pola penanganan bencana yang tidak jelas,” ujar Halim Abe dalam keterangannya.
KPA Kuta Pase juga meminta aparat keamanan menyikapi aspirasi masyarakat secara humanis dan proporsional. Pendekatan represif, menurut Halim, bukan solusi dan justru berpotensi memperkeruh suasana di tengah situasi kemanusiaan yang sensitif.
Lebih lanjut, Halim Abe mengimbau seluruh jajaran KPA Kuta Pase untuk tetap menjaga pông droe (harga diri), memperkuat koordinasi internal sesuai garis komando, serta bersikap bijaksana agar fokus perjuangan tidak bergeser dari kepentingan rakyat terdampak bencana.
Ia menegaskan bahwa situasi yang tidak dikelola dengan baik berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan utama, yakni penderitaan masyarakat Aceh akibat banjir yang hingga kini masih membutuhkan bantuan dan pemulihan serius.
“Kami meminta seluruh jajaran KPA Kuta Pase tetap solid, terkoordinasi, dan waspada. Jangan sampai ada pihak yang menunggangi situasi dan mengaburkan isu kemanusiaan rakyat Aceh,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, KPA Kuta Pase juga menegaskan komitmen dan dukungan terhadap Muzakir Manaf (Mualem) dalam mengawal aspirasi masyarakat secara bertanggung jawab dan terarah, demi mempercepat pemulihan Aceh dari keterpurukan pascabencana.
Pada kesempatan yang sama, Halim Abe menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak di luar Aceh, termasuk NGO, lembaga internasional, dan elemen masyarakat sipil yang telah menyalurkan bantuan serta turun langsung melihat kondisi di lapangan.
“Semoga Allah SWT melindungi kita semua, memberi kesabaran dan keikhlasan. InsyaAllah, Aceh akan mampu melewati masa sulit ini dengan kehormatan, sebagaimana telah kita buktikan dari masa ke masa,” pungkasnya.








