Aceh Barat Daya — Ceramah Maulid biasanya identik dengan jamaah yang duduk tenang mendengarkan tausiah. Namun suasana berbeda terlihat di TKIT-SDIT Daru Quthny, Blangpidie, Aceh Barat Daya, Kamis (17/9/2026).
Sekitar 100 anak bersama orang tua mereka larut dalam suasana Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikemas penuh keceriaan bersama Ustaz Wahyu Rezeki, yang akrab disapa Ust Wahyu QeCe
Di hadapan anak-anak usia dini, Wahyu tidak tampil dengan gaya ceramah yang monoton. Ia berkisah, bernyanyi, mengajak bershalawat hingga melakukan ice breaking yang membuat suasana menjadi hidup.
Menariknya, metode tersebut membuat anak-anak yang biasanya cepat kehilangan fokus mampu mengikuti kegiatan hingga lebih dari satu jam.
Bagi Wahyu, berdakwah di hadapan anak-anak tidak cukup hanya dengan menguasai materi. Cara menyampaikan pesan juga harus energik, atraktif dan sesuai dengan dunia anak.
Dalam kisahnya, Wahyu mengajak anak-anak dan orang tua meneladani akhlak Rasulullah SAW, terutama dalam membangun pendidikan karakter yang dimulai dari keluarga.
“Baiti Jannati, rumahku surgaku. Mencari surga tidak perlu ke mana-mana, karena surga dunia itu ada di rumah kita,” kata Wahyu dalam penyampaiannya.
Menurut dia, ketika keluarga mampu menciptakan rumah yang aman, nyaman dan penuh kasih sayang, proses pendidikan karakter anak akan jauh lebih mudah dibangun.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara orang tua, sekolah dan lingkungan dalam mendidik anak. Namun, keluarga tetap menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang perilaku, sikap dan akhlak.
“Anak adalah peniru yang hebat. Karena itu, orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya,” ujarnya.
Wahyu juga mengingatkan bahwa pendidikan akhlak merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi. Nilai-nilai seperti berbicara positif, sopan, santun, sabar, ramah serta saling menyayangi harus diperkenalkan dan dicontohkan sejak dini.
Ia kemudian mengisahkan sosok Rasulullah SAW yang dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, sosok yang dipercaya bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.
Menurut Wahyu, keteladanan tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan sekadar materi yang diajarkan, tetapi sesuatu yang harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika kita membangun karakter, sesungguhnya kita sedang membangun akhlak yang baik,” katanya.
Suasana semakin meriah ketika Wahyu mengajak anak-anak bernyanyi dan bershalawat bersama. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap gerakan dan ajakan yang diberikan. Wajah ceria mereka menjadi pemandangan tersendiri dalam peringatan Maulid tersebut.
Ketua Yayasan Daru Quthny mengatakan pihaknya sengaja menghadirkan Ust Wahyu QeCe dari Banda Aceh karena ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada anak-anak dan orang tua.
“Ceramah di depan anak-anak tidaklah mudah, apalagi anak usia TK. Mereka biasanya hanya mampu fokus sekitar lima menit. Namun Ust Wahyu bisa berbicara lebih dari satu jam dan anak-anak tetap dapat mengikuti,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak terlepas dari metode storytelling, berkisah dan ice breaking yang digunakan Wahyu sehingga materi Maulid terasa dekat dengan dunia anak.
“Kami berharap penyampaian Ust Wahyu memberikan manfaat bagi anak-anak dan orang tua, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama meneladani akhlak Rasulullah SAW,” katanya.
Maulid di Daru Quthny akhirnya bukan sekadar momentum mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di tengah tawa, nyanyian dan lantunan shalawat anak-anak, terselip pesan sederhana namun penting: pendidikan karakter tidak selalu dimulai dari ruang kelas—ia pertama kali tumbuh dari rumah.









