Home / Banda Aceh / Forum Publik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:37 WIB

Flower Aceh Minta Perempuan Dilibatkan dalam Kebijakan Bencana

Direktur Flower Aceh Riswati menyampaikan hasil Rapid Gender Assessment, diskusi perlindungan perempuan dan kelompok rentan saat bencana. (Foto:Dok/LN)

Direktur Flower Aceh Riswati menyampaikan hasil Rapid Gender Assessment, diskusi perlindungan perempuan dan kelompok rentan saat bencana. (Foto:Dok/LN)

Banda Aceh – Perempuan masih memikul beban terbesar dalam proses pemulihan pascabencana di Aceh, namun keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan dinilai masih jauh dari optimal. Kondisi tersebut terungkap dalam hasil Rapid Gender Assessment yang dipaparkan Flower Aceh pada Rapat Koordinasi Tematik Perempuan Aceh di Banda Aceh, Kamis (16/7/2026).

Kajian yang dilakukan Flower Aceh bersama LBH Apik Aceh, Kalyanamitra, Asosiasi LBH Apik, dan WALHI dengan dukungan Permampu-INKLUSI itu menyoroti pentingnya memperkuat agensi perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengurangan risiko bencana.

Baca Juga |  Imigrasi Banda Aceh Luncurkan Layanan SIKUPI di Pidie, Layani 51 Pemohon Paspor

Penelitian yang dilakukan di enam desa di sejumlah kabupaten tersebut memfokuskan penilaian pada tiga aspek utama, yakni beban kerja perawatan, risiko kekerasan berbasis gender, serta partisipasi perempuan dalam proses pengambilan kebijakan pascabencana.

Hasil asesmen menunjukkan sebanyak 94,17 persen pekerjaan perawatan dan urusan rumah tangga pascabencana masih ditanggung perempuan. Data tersebut menggambarkan besarnya tanggung jawab perempuan dalam memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung proses pemulihan setelah bencana.

Kajian juga menemukan masih adanya persoalan perlindungan di lokasi pengungsian. Di Aceh Tamiang dan Aceh Utara, misalnya, ditemukan dugaan kasus kekerasan seksual yang menjadi perhatian serius dalam upaya melindungi perempuan dan kelompok rentan saat bencana.

Baca Juga |  Banleg DPR RI Kunjungi Aceh, Bahas Revisi UUPA dan Usulan Otsus 2,5 Persen

Di sisi lain, ruang perempuan dalam pengambilan keputusan masih terbatas. Hanya 44 persen perempuan yang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, sementara 13 persen responden mengaku tidak pernah dilibatkan sama sekali.

Direktur Flower Aceh, Riswati, menegaskan perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang terdampak bencana, tetapi juga memiliki peran penting dalam penanganan dan pemulihan.

“Perempuan bukan hanya kelompok yang terdampak, tetapi juga aktor penting dalam penanganan dan pemulihan pascabencana. Karena itu, suara dan pengalaman mereka harus menjadi bagian dari setiap proses pengambilan keputusan,” ujar Riswati.

Baca Juga |  Yulindawati Kritik Pergub JKA, Minta Kepastian Perlindungan Rakyat

Flower Aceh juga menilai penyediaan ruang aman bagi perempuan dan anak, penguatan layanan perlindungan hingga tingkat desa, penggunaan data terpilah berdasarkan jenis kelamin, serta pelibatan perempuan dalam setiap tahapan penanganan bencana menjadi langkah penting untuk mewujudkan kebijakan yang lebih inklusif, responsif gender, dan tepat sasaran.

Reporter: ,
Editor:

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Polda Aceh Perkuat Pencegahan Karhutla

Banda Aceh

Bank Aceh Salurkan Zakat Rp11,94 Miliar
Chairul Azmi, S.H., M.H., hakim Tipikor PN pangkal pinang.

Forum Publik

Dari Advokat dan Aktivis Bantuan Hukum Aceh, Chairul Azmi Dilantik Jadi Hakim Ad Hoc Tipikor
Kabid Humas Polda Aceh

Banda Aceh

Sejumlah Pejabat Polda dan Polres Aceh Dimutasi

Banda Aceh

Lapas Banda Aceh Perkuat Pembinaan Keagamaan
Serambi Awards 2026.

Banda Aceh

Kak Na Raih Srikandi Pemulihan Aceh
Serambi Awards 2026

Banda Aceh

BSI Aceh Raih Serambi Awards 2026
Penebaran benih ikan nila di kolam lapas Banda Aceh

Banda Aceh

Lapas Banda Aceh Ubah Lahan Idle Jadi Kolam Ikan