Idi Rayeuk — Pemilihan Keuchik (Pilkeuchik) Gampong Aceh, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, resmi berakhir dengan kemenangan Sofia (nomor urut 5). Berdasarkan hasil penghitungan suara, Sofia meraih lebih dari 65 persen suara pemilih, mengungguli empat kandidat lainnya dalam kontestasi demokrasi tingkat gampong yang berlangsung tertib dan kondusif yang berlangsung pada Kamis, 22 Januari 2026.
Pilkeuchik ini diikuti oleh 1.236 pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Tingkat partisipasi masyarakat terbilang tinggi, mencerminkan antusiasme warga dalam menentukan kepemimpinan gampong enam tahun ke depan. Sejak pagi hari, warga tampak memadati lokasi pemungutan suara untuk menggunakan hak pilih mereka.
Proses pemilihan mendapat pengawalan langsung dari unsur Muspika Kecamatan Idi Rayeuk, yang terdiri dari Camat, Kapolsek, serta Koramil Idi Rayeuk. Kehadiran unsur pemerintahan dan aparat keamanan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga integritas, keamanan, dan netralitas jalannya Pilkeuchik.
Sofia berhasil mengungguli empat pesaingnya, yakni Ramudhan (nomor urut 1), Muhammad Syakur (nomor urut 2), Samsul Bahri (nomor urut 3), dan Razi Amd (nomor urut 4). Margin kemenangan yang signifikan menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang kuat terhadap figur Sofia.
Sejumlah warga menilai kemenangan ini bukan terjadi secara instan. Selama masa sosialisasi, Sofia dikenal aktif turun langsung ke masyarakat, mendengarkan aspirasi warga, serta menawarkan program-program yang dinilai realistis dan menyentuh kebutuhan dasar gampong, mulai dari pelayanan administrasi, penguatan ekonomi masyarakat, hingga transparansi pengelolaan dana gampong.
“Bukan soal janji besar, tapi kedekatan dan keseriusannya membangun gampong,” ujar salah seorang warga Gampong Aceh yang enggan disebutkan namanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa seluruh tahapan Pilkeuchik berjalan sesuai ketentuan. Panitia Pemilihan Gampong (PPG) memastikan proses pemungutan dan penghitungan suara berlangsung terbuka dan dapat disaksikan oleh para saksi dari masing-masing kandidat.
Tidak ditemukan laporan pelanggaran serius, baik terkait intimidasi pemilih, politik uang, maupun gangguan keamanan. Aparat keamanan berjaga dalam posisi siaga terbatas, tanpa intervensi terhadap jalannya pemilihan.
Camat Idi Rayeuk dalam keterangannya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Gampong Aceh yang telah menjaga situasi tetap kondusif.
Menurutnya, Pilkeuchik ini dapat menjadi contoh pelaksanaan demokrasi tingkat desa yang sehat dan bermartabat.
Kemenangan Sofia menandai dimulainya babak baru kepemimpinan di Gampong Aceh. Ekspektasi publik pun mengemuka. Warga berharap keuchik terpilih mampu menjalankan roda pemerintahan gampong secara inklusif, transparan, dan akuntabel, terutama dalam pengelolaan Dana Desa yang setiap tahunnya bernilai signifikan.
Selain itu, isu kesejahteraan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, serta peningkatan kualitas pelayanan publik menjadi pekerjaan rumah yang menanti.
Sebagian warga juga menaruh harapan agar Sofia mampu merangkul semua pihak, termasuk para kandidat yang kalah, demi menjaga persatuan dan stabilitas sosial di gampong.
“Pilihan boleh berbeda, tapi setelah pemilihan selesai, yang dibutuhkan adalah kerja bersama,” kata tokoh masyarakat setempat.
Pilkeuchik bukan sekadar agenda rutin lima tahunan. Di Aceh, pemilihan keuchik memiliki makna strategis karena keuchik memegang peran sentral dalam tata kelola pemerintahan gampong, pengambilan kebijakan lokal, serta pelaksanaan program pembangunan berbasis masyarakat. Kemenangan Sofia dengan dukungan mayoritas pemilih memberikan legitimasi politik yang kuat.
Namun legitimasi tersebut juga datang bersama tanggung jawab besar untuk membuktikan bahwa suara rakyat benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata. Dengan berakhirnya Pilkeuchik Gampong Aceh, masyarakat kini menunggu langkah konkret dari keuchik terpilih.
Apakah kemenangan besar ini akan berbanding lurus dengan perubahan nyata di tingkat gampong, waktu yang akan menjawab.








