Editorial | LamanNews
“Jangan Wariskan Trauma kepada Generasi Berikutnya”.
Setiap tahun, Hari Anak Nasional datang membawa pesan yang sama, “Anak adalah masa depan bangsa”.
Kalimat itu begitu sering diucapkan hingga terdengar biasa. Ia menghiasi spanduk, pidato, dan media sosial. Namun, di Aceh, tahun ini kalimat tersebut terasa lebih berat daripada biasanya.
Sebab, tidak semua anak merayakan Hari Anak Nasional dengan tawa.
Sebagian masih memandang langit dari tenda pengungsian. Sebagian lain masih belajar di ruang-ruang darurat. Ada yang kehilangan buku, ada yang kehilangan rumah, dan mungkin ada pula yang kehilangan seseorang yang selama ini memanggil mereka pulang.
Bencana memang selalu datang tanpa memilih. Air bah tidak mengenal usia. Ia menyapu jalan, sawah, sekolah, bahkan halaman tempat anak-anak berlari mengejar layang-layang. Yang tertinggal kemudian bukan hanya lumpur, tetapi juga jeda panjang dalam masa kecil mereka.
Sering kali perhatian kita berhenti ketika banjir mulai surut. Kamera televisi beralih ke peristiwa lain. Bantuan perlahan berkurang. Padahal, bagi anak-anak, pemulihan baru saja dimulai.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan pakaian. Mereka membutuhkan ruang untuk kembali merasa aman. Mereka membutuhkan sekolah yang kembali hidup, guru yang menyapa dengan hangat, teman bermain yang masih bisa diajak tertawa, dan keyakinan bahwa dunia orang dewasa tidak akan meninggalkan mereka sendirian menghadapi trauma.
Masa kecil tidak dapat diulang. Hari yang hilang hari ini tidak akan kembali ketika mereka dewasa. Setiap bulan yang berlalu tanpa pendidikan yang layak, tanpa perlindungan yang memadai, tanpa perhatian terhadap kesehatan mental mereka, adalah bagian dari masa depan yang perlahan ikut terkikis.
Karena itu, membangun kembali Aceh tidak cukup dengan memperbaiki jalan yang putus, jembatan yang hanyut, atau rumah yang roboh. Yang lebih penting adalah memastikan harapan anak-anak tidak ikut hanyut bersama arus banjir.
Hari Anak Nasional semestinya menjadi cermin bagi kita semua. Pemerintah, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, tokoh masyarakat, hingga setiap keluarga memiliki tanggung jawab yang sama, memastikan tidak ada satu pun anak yang kehilangan haknya untuk tumbuh, belajar, bermain, dan bermimpi.
Anak-anak Aceh tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan keberpihakan. Mereka tidak meminta diperlakukan istimewa. Mereka hanya ingin hak-haknya dipenuhi sebagaimana mestinya.
Kelak, ketika sejarah mencatat banjir besar ini, semoga yang dikenang bukan hanya besarnya air yang pernah datang, melainkan besarnya kepedulian yang pernah diberikan. Sebab, peradaban tidak diukur dari seberapa cepat membangun kembali bangunan yang runtuh, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh ia menjaga generasi yang akan melanjutkan kehidupan.
Ukuran keberhasilan pemulihan Aceh bukan hanya ketika banjir surut, jalan kembali dilalui, atau rumah selesai dibangun. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika setiap anak kembali bisa tertawa di sekolah, bermain tanpa rasa takut, dan berani bermimpi setinggi langit. Sebab, masa depan Aceh tidak dibangun dengan beton semata, melainkan dengan harapan yang tumbuh di hati anak-anaknya.
Hari ini, mungkin sebagian anak Aceh belum sepenuhnya dapat merayakan Hari Anak Nasional. Namun, mereka masih menyimpan sesuatu yang tidak sempat dihanyutkan banjir, “harapan”.
Dan harapan itu adalah titipan yang harus dijaga oleh kita semua.
Arie Aseandi
Redaksi LamanNews









