Home / Editorial

Jumat, 24 Juli 2026 - 02:56 WIB

Hari Anak Nasional 2026, “Ketika Anak-Anak Aceh Menunggu Negeri Menepati Janji”

Foto: ilustrasi.

Foto: ilustrasi.

Editorial | LamanNews

“Jangan Wariskan Trauma kepada Generasi Berikutnya”.

Setiap tahun, Hari Anak Nasional datang membawa pesan yang sama, “Anak adalah masa depan bangsa”.

Kalimat itu begitu sering diucapkan hingga terdengar biasa. Ia menghiasi spanduk, pidato, dan media sosial. Namun, di Aceh, tahun ini kalimat tersebut terasa lebih berat daripada biasanya.

Sebab, tidak semua anak merayakan Hari Anak Nasional dengan tawa.

Sebagian masih memandang langit dari tenda pengungsian. Sebagian lain masih belajar di ruang-ruang darurat. Ada yang kehilangan buku, ada yang kehilangan rumah, dan mungkin ada pula yang kehilangan seseorang yang selama ini memanggil mereka pulang.

Bencana memang selalu datang tanpa memilih. Air bah tidak mengenal usia. Ia menyapu jalan, sawah, sekolah, bahkan halaman tempat anak-anak berlari mengejar layang-layang. Yang tertinggal kemudian bukan hanya lumpur, tetapi juga jeda panjang dalam masa kecil mereka.

Baca Juga |  Perbandingan makan siang gratis China dan Indonesia

Sering kali perhatian kita berhenti ketika banjir mulai surut. Kamera televisi beralih ke peristiwa lain. Bantuan perlahan berkurang. Padahal, bagi anak-anak, pemulihan baru saja dimulai.

Mereka membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan pakaian. Mereka membutuhkan ruang untuk kembali merasa aman. Mereka membutuhkan sekolah yang kembali hidup, guru yang menyapa dengan hangat, teman bermain yang masih bisa diajak tertawa, dan keyakinan bahwa dunia orang dewasa tidak akan meninggalkan mereka sendirian menghadapi trauma.

Masa kecil tidak dapat diulang. Hari yang hilang hari ini tidak akan kembali ketika mereka dewasa. Setiap bulan yang berlalu tanpa pendidikan yang layak, tanpa perlindungan yang memadai, tanpa perhatian terhadap kesehatan mental mereka, adalah bagian dari masa depan yang perlahan ikut terkikis.

Baca Juga |  Aceh di Tengah Gelombang Rusuh Nasional, Menjadi Pemain atau Penonton?

Karena itu, membangun kembali Aceh tidak cukup dengan memperbaiki jalan yang putus, jembatan yang hanyut, atau rumah yang roboh. Yang lebih penting adalah memastikan harapan anak-anak tidak ikut hanyut bersama arus banjir.

Hari Anak Nasional semestinya menjadi cermin bagi kita semua. Pemerintah, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, tokoh masyarakat, hingga setiap keluarga memiliki tanggung jawab yang sama, memastikan tidak ada satu pun anak yang kehilangan haknya untuk tumbuh, belajar, bermain, dan bermimpi.

Anak-anak Aceh tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan keberpihakan. Mereka tidak meminta diperlakukan istimewa. Mereka hanya ingin hak-haknya dipenuhi sebagaimana mestinya.

Kelak, ketika sejarah mencatat banjir besar ini, semoga yang dikenang bukan hanya besarnya air yang pernah datang, melainkan besarnya kepedulian yang pernah diberikan. Sebab, peradaban tidak diukur dari seberapa cepat membangun kembali bangunan yang runtuh, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh ia menjaga generasi yang akan melanjutkan kehidupan.

Baca Juga |  Polresta Banda Aceh Koordinasi dengan Pertamina Pastikan Stok BBM Aman

Ukuran keberhasilan pemulihan Aceh bukan hanya ketika banjir surut, jalan kembali dilalui, atau rumah selesai dibangun. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika setiap anak kembali bisa tertawa di sekolah, bermain tanpa rasa takut, dan berani bermimpi setinggi langit. Sebab, masa depan Aceh tidak dibangun dengan beton semata, melainkan dengan harapan yang tumbuh di hati anak-anaknya.

Hari ini, mungkin sebagian anak Aceh belum sepenuhnya dapat merayakan Hari Anak Nasional. Namun, mereka masih menyimpan sesuatu yang tidak sempat dihanyutkan banjir, “harapan”.

Dan harapan itu adalah titipan yang harus dijaga oleh kita semua.

Arie Aseandi
Redaksi LamanNews

Editor:

Share :

Baca Juga

Sarjana melamar pekerjaan

Editorial

Hari Populasi Sedunia Menguji Janji Lapangan Kerja Pemerintah Aceh

Editorial

WH, TikTok, dan Ujian Integritas
Polisi Syariah Siber di negeri syariat.

Editorial

Ketika Wilayatul Hisbah Masuk ke Ruang Digital

Editorial

Aceh Timur dan Babak Baru Partai Aceh
KPK sorot Dana Hibah Aceh

Editorial

KPK Soroti Miliaran Dana Hibah Aceh Untuk Lembaga Vertikal Negara
Women day 2026

Editorial

‎Women’s Day dan Jalan Panjang Hak Perempuan Aceh

Editorial

Perang Iran vs Israel, Ancaman Resesi dan Peta Politik Dunia Baru

Editorial

Aceh, Bendera, dan Bahaya Aparat Menabrak Kewenangan Hukum