Home / Banda Aceh / Editorial

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:56 WIB

Taman Satwa Jadi Wajah Baru Pembinaan di Lapas Banda Aceh

Banda Aceh – Suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banda Aceh kini tak hanya identik dengan tembok tinggi dan pengamanan ketat. Sebuah ruang hijau yang dihuni beragam satwa hadir membawa warna baru: menjadi tempat belajar, merawat kehidupan, sekaligus membangun kemandirian warga binaan.

Inovasi tersebut diwujudkan melalui Taman Satwa Lapas Kelas IIA Banda Aceh, yang mulai dihadirkan di lingkungan Lapas, Sabtu 29 Agustus 2026

Taman Satwa ditempatkan di lokasi strategis, berdekatan dengan area kunjungan. Posisi ini membuat keberadaannya mudah dilihat dan diakses, termasuk oleh keluarga maupun masyarakat yang datang menjenguk warga binaan.

Sejumlah satwa kini menghuni taman tersebut, mulai dari kelinci, berbagai jenis burung, ayam, bebek entok hingga kura-kura.

Kehadiran satwa-satwa itu bukan sekadar mempercantik lingkungan Lapas. Lebih jauh, Taman Satwa dirancang sebagai ruang edukasi yang mempertemukan unsur pembinaan, kepedulian lingkungan dan literasi tentang makhluk hidup.

Kepala Lapas Kelas IIA Banda Aceh Akhmad Heru Setiawan mengatakan, inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah dalam proses pembinaan warga binaan sekaligus menghadirkan lingkungan Lapas yang lebih humanis.

Baca Juga |  WN Pakistan Ditangkap Imigrasi Banda Aceh, Langgar Izin Tinggal

“Taman Satwa ini bukan hanya untuk memperindah lingkungan, tetapi menjadi media pembelajaran dan pembinaan. Kami ingin warga binaan belajar merawat, bertanggung jawab dan memiliki kepedulian terhadap makhluk hidup. Nilai-nilai itu penting sebagai bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Bagi warga binaan, taman tersebut menjadi ruang praktik untuk belajar bertanggung jawab. Mereka dilibatkan dalam aktivitas perawatan satwa, mulai dari pemberian pakan, menjaga kebersihan kandang, pemeliharaan hingga pengelolaan lingkungan taman.

Dari aktivitas sederhana itu, sejumlah karakter dibangun secara bertahap, seperti disiplin, kepedulian, ketekunan, rasa tanggung jawab dan kemampuan bekerja secara teratur.

Konsep tersebut sekaligus memperkuat Pembinaan Kemandirian di lingkungan Lapas. Keterampilan yang diperoleh warga binaan diharapkan tidak berhenti ketika mereka berada di dalam Lapas, tetapi dapat menjadi bekal produktif setelah kembali ke tengah masyarakat.

Perawatan satwa, misalnya, mengajarkan bahwa setiap pekerjaan membutuhkan konsistensi. Satwa harus diberi makan tepat waktu, kandang harus dibersihkan dan kondisi lingkungan harus dijaga.

Baca Juga |  Kasdam IM Pimpin Sertijab dan Beri Penghargaan Prajurit

Di situlah nilai pembinaan bekerja, bukan hanya melalui teori, tetapi melalui kebiasaan sehari-hari.

Taman Satwa juga membawa pesan ekologis. Petugas, warga binaan dan pengunjung diajak memahami bahwa menjaga makhluk hidup merupakan bagian dari tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.

Bagi pengunjung, keberadaan taman ini memberikan pengalaman berbeda saat datang ke Lapas. Kunjungan tidak hanya menjadi momentum bertemu keluarga, tetapi juga dapat menjadi kesempatan mengenal satwa sekaligus belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara bagi warga binaan, taman tersebut menjadi ruang untuk belajar, berkarya dan mengembangkan potensi dalam suasana pembinaan yang lebih humanis.

Akhmad Heru menambahkan, pihaknya akan terus mendorong berbagai inovasi yang memiliki manfaat nyata bagi warga binaan maupun masyarakat.

“Kami ingin setiap sudut di Lapas memiliki nilai pembinaan. Apa yang ada di sini harus bisa menjadi ruang untuk belajar, membentuk karakter dan menumbuhkan produktivitas. Harapannya, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kembali dan diterima dengan baik di tengah masyarakat,” katanya.

Baca Juga |  PLN Bangun 4 Tower Darurat, Banda Aceh Ditargetkan Menyala Minggu Ini

Konsep ini menjadi bagian dari upaya Lapas Kelas IIA Banda Aceh membangun lingkungan pemasyarakatan yang edukatif, produktif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Taman Satwa bukan semata tentang kelinci, burung, ayam, bebek atau kura-kura. Di balik aktivitas merawat satwa, terdapat proses yang lebih besar: membangun manusia agar memiliki kepedulian, disiplin dan keterampilan sebagai bekal menjalani kehidupan setelah bebas.

Dengan inovasi tersebut, Lapas Kelas IIA Banda Aceh ingin menunjukkan bahwa proses pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang menyiapkan warga binaan agar mampu kembali ke masyarakat dengan membawa perubahan positif.

Taman Satwa pun menjadi simbol kecil dari proses besar itu, merawat kehidupan sambil menumbuhkan harapan.

Reporter: ,
Editor:

Share :

Baca Juga

Editorial

SIG Pastikan Pasokan Semen Aceh Kembali Stabil

Banda Aceh

Kasdam IM Pimpin Sertijab dan Beri Penghargaan Prajurit
Maulid nabi Muhammad Saw

Banda Aceh

PAUD Intan Payong Gelar Khanduri Maulid

Banda Aceh

Wagub dan DPRA Bahas Percepatan Qanun APBA

Banda Aceh

Kalapas Banda Aceh Perintahkan Razia Rutin

Banda Aceh

Polwan Sabang Promosikan Wisata Bahari Lewat Diving

Banda Aceh

Aipda Jonni Rahmad, Polisi yang Bangun Rumah untuk Fakir Miskin

Banda Aceh

Pangdam IM Pimpin Sidang Pemilihan 285 Calon Bintara TNI AD