Home / Editorial

Jumat, 10 Juli 2026 - 00:52 WIB

WH, TikTok, dan Ujian Integritas

Foto: ilustrasi.

Foto: ilustrasi.

Editorial | LamanNews

“Ketika pengawas menjadi tontonan, rakyat mulai menguji siapa yang benar-benar menjaga wibawa.”

Ada pepatah lama yang masih relevan hingga hari ini, jabatan bukan sekadar kewenangan, tetapi juga teladan.

Video singkat yang memperlihatkan tiga anggota Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Bireuen berjoget menggunakan seragam dinas mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, di era media sosial, beberapa detik itu cukup untuk memicu perdebatan panjang tentang etika, profesionalisme, dan kepercayaan publik.

Ketiganya telah menyampaikan permohonan maaf. Sikap itu patut dihargai sebagai bentuk pengakuan atas kekeliruan.

Namun, permintaan maaf bukanlah garis akhir. Justru di sanalah ujian sesungguhnya dimulai: bagaimana sebuah institusi merespons kesalahan yang dilakukan oleh aparatnya sendiri.

Baca Juga |  Hari Anak Nasional 2026, "Ketika Anak-Anak Aceh Menunggu Negeri Menepati Janji"

WH selama ini dikenal sebagai wajah penegakan qanun di Aceh. Tugasnya bukan ringan. Mereka hadir untuk menegakkan aturan, menjaga ketertiban, sekaligus menjadi representasi nilai yang ingin dibangun di tengah masyarakat.

Karena itu, publik wajar memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap aparat dibanding warga biasa. Bukan karena mereka harus sempurna, melainkan karena mereka memilih mengenakan seragam yang membawa nama negara, daerah, dan institusi.

Ironisnya, media sosial memiliki sifat yang adil. Ia tidak memilih siapa yang direkam. Tidak membedakan siapa yang mengawasi dan siapa yang diawasi. Ketika kamera ponsel menyala, peluit pengawas bisa saja berbalik arah.

Baca Juga |  Aceh di Tengah Gelombang Rusuh Nasional, Menjadi Pemain atau Penonton?

Di ruang digital, tidak ada ruang steril dari sorotan publik. Setiap unggahan membawa konsekuensi. Setiap konten dapat menjadi cermin yang memantulkan kembali nilai-nilai yang selama ini disampaikan kepada masyarakat.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa integritas tidak hanya diuji saat bertugas di lapangan, tetapi juga ketika seseorang menekan tombol “unggah”. Reputasi sebuah lembaga hari ini tidak hanya dibangun oleh operasi penertiban, tetapi juga oleh jejak digital para aparatnya.

Baca Juga |  Hari Populasi Sedunia Menguji Janji Lapangan Kerja Pemerintah Aceh

Yang dibutuhkan sekarang bukan perlombaan mencari kambing hitam, melainkan keberanian membangun budaya etik yang konsisten. Jika masyarakat diminta mematuhi aturan, maka aparat pun harus menunjukkan bahwa aturan itu berlaku sama bagi semua.

Kepercayaan publik tidak lahir dari kesempurnaan. Ia tumbuh dari keberanian mengakui kesalahan, disertai tindakan nyata untuk memperbaikinya.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak sedang menonton sebuah video joget.

Masyarakat sedang menonton bagaimana sebuah institusi menjaga martabatnya ketika sorotan kamera berbalik menghadap dirinya sendiri.

Arie Aseandi
Redaksi LamanNews

Editor:

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Kakanwil Ditjenpas Aceh Tegaskan Zero Halinar

Editorial

Hari Anak Nasional 2026, “Ketika Anak-Anak Aceh Menunggu Negeri Menepati Janji”
Sarjana melamar pekerjaan

Editorial

Hari Populasi Sedunia Menguji Janji Lapangan Kerja Pemerintah Aceh
Polisi Syariah Siber di negeri syariat.

Editorial

Ketika Wilayatul Hisbah Masuk ke Ruang Digital

Editorial

Aceh Timur dan Babak Baru Partai Aceh
KPK sorot Dana Hibah Aceh

Editorial

KPK Soroti Miliaran Dana Hibah Aceh Untuk Lembaga Vertikal Negara
Women day 2026

Editorial

‎Women’s Day dan Jalan Panjang Hak Perempuan Aceh

Editorial

Perang Iran vs Israel, Ancaman Resesi dan Peta Politik Dunia Baru