Home / Dialog Publik

Senin, 25 Mei 2026 - 15:59 WIB

Jejak Pengabdian Prof Adjunct Dr Marniati untuk Pendidikan Anak Bangsa

Prof Marniati pendiri Universitas Ubudiyah Indonesia dan Universitas Deztron Indonesia. (Foto:Dok/Ist)

Prof Marniati pendiri Universitas Ubudiyah Indonesia dan Universitas Deztron Indonesia. (Foto:Dok/Ist)

Banda Aceh — Tidak semua perjalanan besar dimulai dari panggung megah. Sebagian lahir dari langkah kecil, dari ruang sederhana, dan dari keyakinan yang dijaga bertahun-tahun tanpa lelah. Kisah itu tercermin dalam perjalanan hidup Prof Adjunct Dr Marniati, sosok perempuan Aceh yang kini dikenal luas sebagai pendiri dua perguruan tinggi di wilayah barat Indonesia.

Di balik keberhasilannya membangun Universitas Ubudiyah Indonesia dan Universitas Deztron Indonesia, tersimpan cerita panjang tentang ketekunan, perjuangan, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan banyak orang.

Prof Marniati mengawali perjalanan bukan sebagai pimpinan kampus, melainkan dari posisi staf administrasi di STIKes Ubudiyah. Dari ruang kerja sederhana itulah ia belajar memahami denyut dunia pendidikan, mengenali kebutuhan mahasiswa, hingga merancang mimpi besar yang saat itu mungkin terdengar mustahil bagi sebagian orang.

Namun waktu membuktikan, mimpi yang dirawat dengan kerja keras dapat tumbuh menjadi kenyataan. Sedikit demi sedikit, ia membangun institusi pendidikan tersebut hingga berkembang menjadi Universitas Ubudiyah Indonesia, salah satu perguruan tinggi yang kini dikenal di Aceh.

Baca Juga |  Mj Thabari Mahasiswa UIN Ar-Raniry Ikuti Student Exchange di Brunei

Transformasi itu bukan hanya tentang perubahan nama atau bangunan kampus, melainkan tentang harapan yang berhasil ia hidupkan bagi ribuan generasi muda untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.

“Saya percaya, pendidikan bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi bagaimana kita mampu menciptakan generasi yang berani bermimpi, memiliki integritas, dan siap membawa perubahan bagi daerah maupun bangsa. Apa yang saya bangun hari ini adalah bagian dari ikhtiar untuk membuka lebih banyak harapan bagi anak-anak muda Indonesia,” ujar Prof Adjunct Dr Marniati.

Bagi banyak orang, keberhasilan itu mungkin sudah cukup. Tetapi bagi Prof Marniati, pengabdian terhadap pendidikan tidak mengenal batas wilayah.

Baca Juga |  Partai Perjuangan Aceh Resmi Dideklarasikan di Banda Aceh

Ia kemudian memperluas kontribusinya ke Sumatra Utara dengan mendirikan Universitas Deztron Indonesia. Kehadiran kampus tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat pendidikan tinggi berbasis inovasi, teknologi, dan kewirausahaan, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi anak-anak muda di kawasan barat Indonesia untuk berkembang dan bersaing di era global.

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan entrepreneur pendidikan, Prof Marniati juga dipercaya memimpin Partai Perjuangan Aceh. Melalui peran itu, ia terus menyuarakan pentingnya pemberdayaan perempuan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan generasi muda yang berlandaskan pendidikan dan integritas.

Menurutnya, pendidikan bukan sekadar proses belajar di ruang kelas, melainkan jalan perubahan sosial yang mampu mengangkat martabat masyarakat dan daerah.

“Di usia yang ke-45 tahun ini, saya hanya ingin terus bermanfaat, terus belajar, dan terus memberi ruang bagi lahirnya generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” tuturnya.

Baca Juga |  Dari Rempah ke Parfum, Kisah Unik Parfum Kerajaan Aceh

Konsistensi yang ditunjukkan Prof Marniati menjadi bukti bahwa perempuan Aceh mampu berdiri di garis depan perubahan. Bahwa kepemimpinan perempuan tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi mampu melahirkan transformasi nyata yang dirasakan masyarakat luas.

Tepat pada Senin, 25 Mei 2026, Prof Adjunct Dr Marniati genap berusia 45 tahun. Di usia yang penuh kematangan dan pengabdian itu, doa serta harapan mengalir agar seluruh cita-cita yang sedang diperjuangkannya dapat terwujud, dan langkah pengabdiannya terus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.

Sebab terkadang, warisan terbesar seseorang bukan hanya tentang apa yang berhasil dibangun, tetapi tentang berapa banyak masa depan yang berhasil ia nyalakan melalui pendidikan.

Reporter:
Editor:

Share :

Baca Juga

Ketua Umum FOSKADJA

Dialog Publik

Khalid Nahkodai Foskadja, Terpilih Aklamasi di Mubes V

Dialog Publik

Dari Bisnis Otobus ke Filantropi, Kiprah Rival Amiruddin
Vathia Najwa Agam ining Aceh Utara.

Dialog Publik

Aktif Sejak Sekolah, Vathia Najwa Mantapkan Langkah di Ajang Inong Aceh
MJ Thabari

Dialog Publik

Mj Thabari Mahasiswa UIN Ar-Raniry Ikuti Student Exchange di Brunei
Workshop imunisasi.

Dialog Publik

Aceh Perkuat Imunisasi, Pokja dan Satgas Dibentuk Kejar Cakupan Anak
Bea cukai aceh

Dialog Publik

Bea Cukai Aceh dan Satpol PP Perkuat Sinergi Berantas Rokok Ilegal
Komunitas lingkungan

Dialog Publik

Kapolda Aceh Audiensi dengan Komunitas Green Leadership Indonesia Aceh
Diskusi Hari perempuan sedunia.

Dialog Publik

Hari Perempuan Sedunia, Perempuan Muda Aceh Ngabuburit Sambil Diskusi