Banda Aceh – Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Aceh mengeluhkan cuaca yang terasa jauh lebih panas dan gerah dibandingkan biasanya. Meski suhu udara berkisar 30–34 derajat Celsius, sensasi panas yang dirasakan tubuh bisa lebih tinggi akibat kelembapan udara yang masih tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi musim kemarau, penguatan fenomena El Niño, serta berkurangnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Fenomena El Niño menyebabkan pusat pembentukan awan bergeser ke Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Akibatnya, curah hujan di Indonesia, termasuk Aceh, cenderung menurun sehingga sinar matahari lebih lama menyinari permukaan bumi.
Selain itu, suhu permukaan laut yang hangat dan kelembapan udara tinggi membuat tubuh merasakan suhu lebih panas dibandingkan angka yang tercatat pada termometer. Kondisi ini menyebabkan cuaca terasa gerah, terutama pada siang hingga sore hari.
BMKG juga mencatat suhu maksimum di sejumlah wilayah Aceh pada akhir Juni mencapai kisaran 35 hingga 36,1 derajat Celsius. Memasuki Juli, musim kemarau semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia dan diperkirakan mencapai puncaknya secara bertahap hingga Agustus dan September.
Meski demikian, Aceh masih berpotensi mengalami hujan lokal pada sore atau malam hari. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi geografis Aceh yang memiliki Pegunungan Bukit Barisan serta dikelilingi Samudra Hindia dan Selat Malaka, sehingga pembentukan awan hujan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah.
Para ahli juga mengingatkan bahwa perubahan iklim global membuat dampak El Niño menjadi lebih terasa. Peningkatan suhu rata-rata Bumi menyebabkan gelombang panas lebih intens, sementara ketika hujan turun, intensitasnya dapat menjadi lebih ekstrem.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa Aceh dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan cuaca yang kontras. Setelah sebelumnya dilanda banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi, kini masyarakat menghadapi cuaca panas berkepanjangan. Fenomena ini dikenal sebagai “climate whiplash”, yaitu perubahan cepat dari kondisi sangat basah menuju sangat kering dalam waktu relatif singkat.
Masyarakat diimbau menjaga kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari pada siang hari, serta tetap memantau informasi prakiraan cuaca resmi dari BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan cuaca yang semakin dinamis.









