Home / Banda Aceh / Opini

Kamis, 5 November 2026 - 15:43 WIB

Nurmahni Harahap, Penggerak Riset Siswa Madrasah Aceh

Banda Aceh – Dedikasi di dunia pendidikan tidak selalu diukur dari jabatan atau gelar akademik. Terkadang, pengabdian justru tumbuh dari ruang laboratorium sederhana, melalui kesabaran membimbing, keberanian berinovasi, serta komitmen membuka jalan bagi generasi muda untuk mengenal ilmu pengetahuan.

Hal itulah yang tercermin dari perjalanan Nurmahni Harahap, S.Pd., M.Pd., tenaga kependidikan yang mengabdikan diri sebagai laboran IPA sekaligus Koordinator Riset di MTsN 1 Banda Aceh.

Sejak mulai bertugas pada 2006, perempuan kelahiran Langsa, 21 Februari 1983, ini konsisten mengembangkan budaya penelitian di lingkungan madrasah. Baginya, laboratorium bukan sekadar tempat melakukan percobaan, melainkan ruang untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian, dan mimpi besar peserta didik.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, Nurmahni membimbing siswa mulai dari menemukan permasalahan, merumuskan gagasan, menyusun proposal, melakukan eksperimen, menganalisis data, hingga mempresentasikan hasil penelitian.

Berbagai bidang menjadi perhatian dalam pembinaan tersebut, mulai dari sains, teknologi, lingkungan, kesehatan, hingga robotika. Pendekatan STEM dan pemanfaatan teknologi digital juga diterapkan agar peserta didik mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Hasilnya tidak sekadar terlihat dari meningkatnya minat siswa terhadap penelitian. Sepanjang 2022–2026, Nurmahni bersama tim pembimbing berhasil mengantarkan peserta didik MTsN 1 Banda Aceh meraih dua medali emas dan tiga medali perak dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional.

Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa siswa madrasah memiliki potensi besar untuk bersaing melalui karya ilmiah. Pembinaan juga dilakukan melalui berbagai kompetisi penelitian internasional yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA).

Namun, bagi Nurmahni, pencapaian paling berharga bukan semata-mata medali yang dibawa pulang. Ia lebih bangga ketika melihat peserta didik yang awalnya tidak percaya diri akhirnya berani menyampaikan gagasan dan mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di hadapan dewan juri.

Perjalanan Nurmahni hingga berada pada posisi sekarang tidak selalu berjalan mulus. Di balik prestasi dan pengabdiannya, tersimpan kisah perjuangan pendidikan yang mengajarkan arti pengorbanan dan keteguhan hati.

Baca Juga |  Dugaan Penyalahgunaan Jabatan di Pramuka Aceh Disorot, Aktivis Perempuan Minta Audit Anggaran Rp6 Miliar

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Biologi di Universitas Syiah Kuala pada 2006, ia bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Namun, pada 2011, rencana tersebut sempat tertunda ketika anaknya jatuh sakit dan harus menjalani operasi di Penang, Malaysia. Seluruh tabungan yang telah dipersiapkan untuk biaya kuliah S2 akhirnya digunakan untuk kebutuhan pengobatan sang anak.

Sebagai seorang ibu, keselamatan anak menjadi prioritas utama. Ia pun sempat berpikir untuk mengubur sementara impiannya melanjutkan pendidikan.

Namun, kesempatan kembali terbuka ketika masa pendaftaran program magister diperpanjang. Meski tabungannya telah habis, dukungan suami, ibu, dan keluarga membuatnya kembali berani mengambil langkah.

Dengan kondisi keuangan yang terbatas, Nurmahni akhirnya diterima di Program Magister Pendidikan Biologi Universitas Syiah Kuala. Sambil bekerja dan mengurus keluarga, ia menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit untuk membiayai perkuliahan.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Pada 2013, ia berhasil menyelesaikan pendidikan magister.

Kini, semangat belajarnya belum berhenti. Nurmahni sedang menempuh Program Doktor Pendidikan di Universitas Syiah Kuala. Di tengah kesibukan sebagai laboran, pembimbing riset, istri, dan ibu dari tiga anak, ia tetap berkomitmen meningkatkan kompetensi akademik dan profesional.

Ketekunan Nurmahni dalam dunia pendidikan juga mendapat pengakuan di tingkat nasional.

Pada 2018, ia meraih Juara I Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kategori Laboran Tingkat Nasional yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Laboran Terbaik Bidang Inovasi Tingkat Provinsi Aceh.

Pengakuan kembali diterimanya pada 23 Juli 2025 melalui PGM Indonesia Award 2025 Kategori Guru Madrasah Tingkat Nasional. Penghargaan tersebut diserahkan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta.

Baca Juga |  UNDP–UNICEF Respon Surat Aceh, Dukungan Internasional Mulai Dibahas

Selain aktif membimbing penelitian, Nurmahni juga mengembangkan kapasitas akademiknya melalui penelitian dan publikasi ilmiah. Bidang yang ditekuninya meliputi pendidikan biologi, pengembangan model pembelajaran, serta inovasi teknologi pendidikan.

Dalam daftar karya ilmiah yang disertakan untuk dokumentasi profilnya, tercatat 30 karya berupa jurnal dan buku sepanjang 2024–2026. Salah satunya buku referensi berjudul Inovasi dalam Pendidikan Biologi: Pembelajaran Berbasis Eksperimen dan Teknologi.

Karya penelitian yang dibimbingnya juga menunjukkan keberagaman tema. Mulai dari pemanfaatan bahan alam sebagai produk ramah lingkungan, pengembangan robot berbasis Arduino, pengelolaan sampah, kesehatan, hingga kajian sosial budaya dan keagamaan.

Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa penelitian di lingkungan madrasah tidak harus terbatas pada teori di ruang kelas. Peserta didik justru didorong untuk mengamati lingkungan, mengenali persoalan, kemudian menawarkan solusi melalui pendekatan ilmiah.

Di balik keberhasilan mengantarkan siswa meraih medali, Nurmahni juga menghadapi pengalaman emosional ketika peserta didik harus menerima kegagalan dalam kompetisi.

Ia mengaku pernah menyaksikan siswa menangis karena namanya tidak diumumkan sebagai pemenang, meskipun telah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menyelesaikan penelitian.

Dalam situasi tersebut, ia memilih mendekati, mendengarkan, dan memberikan penguatan kepada peserta didik.

Ia selalu mengingatkan bahwa belum memperoleh medali bukan berarti gagal. Pengalaman melakukan penelitian, mengolah data, menyusun laporan ilmiah, dan mempresentasikan hasil di hadapan dewan juri merupakan pencapaian yang tidak boleh diremehkan.

Menurutnya, pendidikan bukan hanya tentang membangun kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk karakter, ketangguhan, kejujuran, dan kemampuan bangkit setelah menghadapi kegagalan.

Prinsip ikhtiar, doa, tawakal, dan qanaah menjadi nilai yang terus ditanamkannya dalam setiap proses pembimbingan.

Dibalik perjalanan panjang tersebut, almarhumah ibunya menjadi sosok yang paling menginspirasi Nurmahni.

Dari seorang ibu yang bekerja sebagai pedagang, ia belajar tentang kerja keras, kemandirian, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ada satu kenangan sederhana yang terus melekat dalam ingatannya. Setiap pagi, sang ibu kerap menelepon dan bertanya, “Mahni, hari ini mau Mama doakan apa?”

Baca Juga |  Pelindo Jasa Maritim Dukung Pemulihan Aceh Pasca Bencana

Pertanyaan sederhana itu menjadi sumber kekuatan ketika ia menghadapi berbagai kesulitan.

Ketika ibunya jatuh sakit di Langsa, Nurmahni berusaha pulang hampir setiap minggu. Di tengah kesibukan pekerjaan, pendidikan doktoral, dan tanggung jawab keluarga, ia menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar sepuluh jam untuk mendampingi sang ibu.

Namun, pada 2 Desember 2024, ibunya berpulang ke rahmatullah.

Kehilangan tersebut menjadi salah satu ujian terberat dalam hidupnya. Meski demikian, ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk merawat dan mendampingi ibunya selama sakit.

Kini, nilai-nilai yang diwariskan sang ibu terus ia hidupkan melalui keluarga dan pengabdiannya di madrasah.

Bagi Nurmahni, menjadi guru madrasah bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, seorang pendidik memiliki tanggung jawab menanamkan iman, membentuk akhlak, serta menumbuhkan kepedulian sosial.

Ia berharap peserta didik tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan berprestasi, tetapi juga jujur, rendah hati, serta mampu menggunakan ilmu untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ke depan, ia ingin melihat madrasah menjadi tempat lahirnya generasi unggul dalam sains dan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.

Kepada para pendidik, ia berpesan agar tidak pernah berhenti belajar, berani berinovasi, dan tetap mendidik dengan hati.

Sebab, bagi Nurmahni, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika peserta didiknya berdiri di podium kemenangan, melainkan ketika mereka tumbuh menjadi manusia berilmu, berakhlak mulia, berani bermimpi, dan bermanfaat bagi sesama.

Baginya, medali mungkin akan tersimpan di lemari dan penghargaan suatu hari menjadi kenangan. Namun, ilmu yang diamalkan, karakter yang terbentuk, dan kebaikan yang diwariskan akan terus hidup melampaui masa pengabdian seorang pendidik.

Reporter: ,
Editor:

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Yulindawati Desak Pelaku Penembakan di Tiro Diadili

Banda Aceh

Pegadaian Gelar Festival Emas 2026 di Banda Aceh

Banda Aceh

Kapolda Aceh: Sabang Punya Potensi Jadi Gerbang Energi Nasional
Aksi demonstrasi mahasiswa Aceh

Banda Aceh

Massa Mahasiswa Kembali Geruduk Kantor Gubernur, Desak Pertanggungjawaban Korporasi

Banda Aceh

Diduga Cabuli Dua Anak, Pria 59 Tahun Ditangkap

Banda Aceh

Kanwil Ditjen Imigrasi Aceh Salurkan 100 Paket Sembako

Banda Aceh

Bank Aceh Catat 25.748 Merchant QRIS

Banda Aceh

MJ Thabari Raih Pemuda Pelopor Banda Aceh 2026