Banda Aceh — Pendangkalan muara Sungai Lhok Pasie Tibang, Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, kian menyulitkan aktivitas nelayan setempat. Penumpukan sedimentasi membuat jalur keluar-masuk perahu menjadi dangkal, sehingga nelayan kerap gagal melaut, terutama saat air laut surut.
Hasan (55), Panglima Laot Lhok Krueng Pasie Tibang, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung lama dan belum pernah ditangani melalui normalisasi menyeluruh.
Akibatnya, nelayan terpaksa menunggu air pasang untuk bisa keluar melaut, dengan risiko keselamatan yang tidak kecil. “Kalau air surut, perahu tidak bisa keluar sama sekali. Kami harus menunggu pasang, itu pun tidak selalu aman,” ujar Hasan, Selasa (6/1/2026).
Hasan berharap pemerintah segera turun tangan melakukan normalisasi muara sungai demi kelangsungan mata pencaharian nelayan.
Ia menilai pengerukan muara idealnya melibatkan lembaga adat laot, seperti yang pernah dilakukan secara swakelola di Lhok Krueng Aceh dan terbukti efektif hingga kini. “Lembaga adat laot lebih memahami karakter muara, arus, dan waktu yang tepat untuk pengerukan.
Ini bukan sekadar soal akses perahu, tapi soal keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir,” katanya.








