Aceh Tamiang — Upaya pemulihan psikososial bagi anak-anak korban bencana di Aceh Tamiang terus dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan “Relawan Yabani Bercerita” yang digelar Yayasan Bina Anak Usia Dini (YABANI) di Kampung Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Selasa (20/1/2026).
Kegiatan ini menghadirkan pendekatan trauma healing berbasis nilai keislaman, dengan menggandeng Kak Bimo, perwakilan Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) Pusat. Puluhan anak terdampak bencana mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias, di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana.
Dalam suasana sederhana namun penuh kehangatan, Kak Bimo menyampaikan kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan para sahabat Nabi dan Rasulullah SAW dalam menghadapi musibah dan ujian berat.
Cerita dikemas secara komunikatif, diselingi pesan keimanan, empati, dan penguatan mental agar anak-anak tidak larut dalam trauma berkepanjangan.

“Melalui cerita, kami ingin menanamkan semangat kepada anak-anak korban bencana. Walaupun rumah dan harta benda hilang, mereka harus tetap ceria dan yakin bahwa Allah SWT selalu bersama mereka,” ujar Kak Bimo di sela kegiatan.
Ia menegaskan bahwa musibah bukanlah akhir segalanya. Menurutnya, setiap ujian memiliki batas kemampuan yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya.
Pesan ini sengaja disampaikan untuk membangun ketahanan mental, optimisme, dan keimanan anak-anak yang tengah berada dalam kondisi psikologis rentan.
Respons positif datang langsung dari para peserta. Aidil, siswa kelas VI SD Negeri 1 Percontohan Aceh Tamiang, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Ia berharap daerahnya segera pulih agar aktivitas belajar mengajar dapat kembali normal.
“Senang dengar ceritanya. Semoga Aceh Tamiang cepat pulih supaya kami bisa sekolah seperti biasa,” ujar Aidil.
Pendekatan trauma healing berbasis cerita Islami ini dinilai efektif karena menyentuh aspek emosional, spiritual, dan psikologis anak secara bersamaan. Di tengah kondisi pascabencana, metode ini menjadi alternatif penting selain bantuan fisik, yang kerap luput dari perhatian dalam penanganan darurat.
YABANI bersama PPMI Pusat menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan serupa di wilayah terdampak bencana lainnya di Aceh.
Program ini tidak hanya dimaksudkan sebagai hiburan sementara, tetapi sebagai investasi mental jangka panjang bagi generasi penyintas bencana.








