Home / Editorial / News

Minggu, 31 Agustus 2025 - 18:49 WIB

Aceh di Tengah Gelombang Rusuh Nasional, Menjadi Pemain atau Penonton?

Pic.Ai

Pic.Ai

Editorial

Situasi nasional saat ini sedang bergejolak. Sejumlah kota besar di Indonesia dilanda aksi unjuk rasa yang berujung rusuh, bahkan isu demo besar-besaran sudah ditetapkan waktunya, 1–5 September 2025. Ketidakpuasan publik terhadap pemerintah pusat mencuat, menambah daftar panjang kegagalan negara dalam menjawab keresahan rakyat.

‎Namun, Aceh menampilkan wajah berbeda. Di tanah Rencong, aksi mahasiswa dan rakyat 2 hari lalu justru berlangsung tertib, tanpa ada adegan bakar-bakaran atau kekerasan. Ada yang melihatnya sebagai kontras, ada pula yang membacanya sebagai strategi.

‎Aceh Bukan Pendatang Baru dalam Jeritan Ketidakadilan

‎Aceh sudah terlalu lama bersuara lantang soal ketidakadilan. Dari masa konflik bersenjata, perundingan Helsinki, hingga janji-janji otonomi khusus yang tak kunjung paripurna. Maka ketika daerah lain baru “meledak,” Aceh justru tampil tenang. Bukan berarti apatis, tetapi karena rakyat Aceh sudah lebih dulu kenyang dengan pahitnya politik Jakarta.

‎Momentum atau Keterpurukan?

‎Di titik ini, Aceh punya dua pilihan:

Baca Juga |  Empat Pemuda Jadi Tersangka Kekerasan Anak di Aceh Tengah, Flower Aceh Angkat Suara

‎1. Menjadi Pemain
‎Aceh bisa memanfaatkan kerusuhan nasional sebagai momentum untuk kembali mengangkat agenda-agenda strategis: penuntasan butir-butir MoU Helsinki, masa depan dana otonomi khusus, serta distribusi keadilan fiskal dan politik. Dengan posisi pusat yang sedang rapuh, Aceh punya ruang untuk melakukan political bargaining.

‎2. Menjadi Penonton
‎Namun, jika elit politik Aceh hanya sibuk berebut kursi pilkada, jabatan di DPRA, dan proyek ekonomi rente, maka Aceh akan terpuruk. Suara rakyat akan kembali tenggelam, dan Aceh hanya jadi catatan kaki di tengah badai nasional.

‎Kemerdekaan Aceh – Retorika atau Realitas?

‎Isu kemerdekaan Aceh pasti selalu muncul setiap kali Jakarta goyah. Tetapi harus realistis, dukungan internasional minim, rakyat lebih sibuk dengan harga sembako dan listrik, sementara elite lokal tak punya konsensus. Maka, seruan merdeka hari ini lebih tepat dibaca sebagai alat tekan politik, bukan strategi nyata.

‎Aceh Harus Pilih Jalannya

‎Aceh saat ini sedang menunggu momen. Apakah memilih tampil sebagai wilayah “demo elegan” untuk menunjukkan kedewasaan politik, atau hanya menjadi penonton dalam kerusuhan nasional? Semua bergantung pada elite lokal, apakah mereka masih punya visi perjuangan, atau hanya sibuk bagi-bagi jatah.

‎Jika Aceh ingin dihormati, ia harus mengambil peran sebagai pemain politik strategis. Jika tidak, maka Aceh akan kembali terperosok dalam lingkaran apatisme, ditinggalkan sejarah, dan hanya dikenang sebagai tanah yang pandai berteriak tapi gagal bertindak.

Editorial ini menegaskan, Aceh punya agenda besar di balik kerusuhan nasional. Pertanyaannya tinggal satu, berani menjadi pemain, atau puas jadi penonton? (MS)

Baca Juga |  Bangunan Liar Ancam DAS Krueng Aceh

Editor:

Share :

Baca Juga

Dian Rubianty

News

Ombudsman Tegaskan Larangan Pungutan Sertifikasi Guru
Stop kekerasan terhadap anak.

Hukum & Kriminal

Empat Pemuda Jadi Tersangka Kekerasan Anak di Aceh Tengah, Flower Aceh Angkat Suara
Program Hibah Grassroots Jepang di Indonesia

News

Hibah Grassroots Jepang Dibuka, Peluang LSM dan Yayasan di Aceh–Sumatra
Ketua Posko Yabani, Dhulhadi bersama warga Babah Suak

News

Ketika Relawan Hadir: Kisah Anak-Anak Di Babah Suak, Langsung Masuk SD Tanpa TK
Dokumen pengumuman hasil Seleksi Terbuka JPT Pratama aceh

News

Direktur RSUZA Disaring, Rekam Jejak Pejabat Kembali Disorot dalam Seleksi JPT Aceh
Pelantikan pengurus LPSA

News

LPSA Resmi Dilantik, Perempuan Aceh Siap Ambil Peran Strategis
Road Show Yabani Berkisah

News

Cerita Kerajaan dan Kebersihan Warnai Road Show YABANI Berkisah di Bireuen
Misbah Hidayat, Mahasiswa UNMUHA

News

Surat Mahasiswa Aceh, Negara Bisa Membungkam, Nurani Tidak