Blangkejeren – Polemik yang berujung pada pengunduran diri Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Gayo Lues, dr. H. Nevirizal, bermula dari kembali viralnya sejumlah unggahan media sosial milik putrinya, Dea Arranoya.
Konten lama yang diunggah pada 2025 tersebut memicu gelombang kritik publik karena dinilai mempertontonkan gaya hidup mewah (flexing) di tengah kondisi masyarakat Gayo Lues yang saat itu sedang menghadapi kesulitan pascabencana dan persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM).
Sorotan publik pertama kali menguat setelah sejumlah akun media sosial membagikan ulang tangkapan layar unggahan Dea yang memperlihatkan aktivitas liburan ke Korea Selatan, Bangkok hingga Eropa, rencana pembelian mobil, serta sebuah video yang menampilkan sekitar 15 jeriken diduga berisi BBM. Video bertanggal 9 Desember 2025 itu menuai kecaman karena dianggap tidak peka terhadap situasi masyarakat yang saat itu kesulitan memperoleh BBM.
Unggahan tersebut kemudian viral di berbagai platform media sosial pada 22 Juli 2026. Warganet mempertanyakan etika keluarga pejabat publik yang dinilai mempertontonkan kemewahan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih akibat bencana.
Menanggapi polemik tersebut, dr. H. Nevirizal lebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa perjalanan luar negeri yang diunggah putrinya merupakan dokumentasi lama ketika istrinya mendampingi anggota keluarga berobat ke Korea Selatan pada pertengahan 2025. Meski demikian, ia mengakui unggahan tersebut telah menimbulkan kegaduhan.
Pada hari yang sama, Dea Arranoya juga menyampaikan surat permohonan maaf terbuka. Ia mengakui seluruh unggahan tersebut merupakan bentuk kelalaian dan ketidakdewasaan dalam menggunakan media sosial. Dea menyatakan tidak mencari pembenaran, telah menghapus seluruh konten yang menjadi sorotan, serta berjanji tidak mengulangi perbuatannya.
Sehari berselang, Kamis (23/7/2026), dr. H. Nevirizal resmi menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Wakil Bupati Gayo Lues, H. Maliki, karena Bupati sedang berada di luar daerah.
Dalam surat tersebut, Nevirizal menegaskan keputusan mundur diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral atas polemik yang melibatkan anggota keluarganya.
Menurutnya, meskipun persoalan itu bersifat pribadi, sebagai pejabat publik ia memiliki kewajiban menjaga integritas, etika, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
“Demi menjaga nama baik institusi serta memberikan kesempatan agar proses evaluasi dan perbaikan dapat berjalan dengan baik, saya memilih mengundurkan diri dari jabatan yang saya emban saat ini,” tulis Nevirizal dalam surat pengunduran dirinya.
Wakil Bupati Gayo Lues, H. Maliki, membenarkan telah menerima surat pengunduran diri tersebut. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menyatakan akan memprosesnya sesuai ketentuan yang berlaku serta membentuk tim untuk melakukan pendalaman terhadap polemik yang berkembang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi yang menyebut adanya pelanggaran hukum ataupun proses pidana terhadap dr. H. Nevirizal. Kasus ini berkembang sebagai persoalan etika pejabat publik yang dipicu viralnya unggahan media sosial anggota keluarganya.









