Pidie Jaya, Aceh — Bangkai seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang ditemukan mati terseret banjir bandang di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meurudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, hingga kini belum ditangani secara layak.
Kondisi tersebut menimbulkan bau busuk menyengat yang dikeluhkan warga sekitar dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sejumlah warga menyebutkan, aroma tak sedap dari bangkai satwa dilindungi itu semakin kuat dalam beberapa hari terakhir, terutama pada siang hari.
Selain menurunkan kenyamanan lingkungan, kondisi ini juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat apabila dibiarkan tanpa penanganan yang memadai.
Situasi tersebut mendapat sorotan dari Jaringan Gajah Nusantara (JGN).
Sekretaris JGN, Muhammad Fadly, menyayangkan lambannya respons pihak berwenang dalam menangani bangkai gajah tersebut. Menurutnya, bangkai satwa dilindungi seharusnya segera dikuburkan sesuai prosedur penanganan satwa liar, terlebih pascabencana alam.
“Seharusnya bangkai gajah ini segera ditangani dan dikuburkan sesuai prosedur. Sampai hari ini belum ditanam, baunya sudah sangat menyengat dan jelas meresahkan masyarakat,” ujar Muhammad Fadly, Selasa (6/1/2025).
Fadly menegaskan, meskipun kematian gajah terjadi akibat bencana alam, penanganannya tidak boleh diabaikan.
Ia mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama instansi terkait untuk segera turun ke lapangan dan mengambil langkah cepat demi mencegah dampak lingkungan dan kesehatan yang lebih luas.
“Kami berharap BKSDA dan instansi terkait segera bertindak. Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan, baik dari sisi lingkungan, kesehatan warga, maupun penghormatan terhadap satwa dilindungi,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak BKSDA terkait keterlambatan penanganan bangkai gajah sumatera tersebut.
Warga berharap pemerintah dan pihak berwenang segera mengambil tindakan agar persoalan ini tidak berlarut-larut dan menimbulkan dampak lanjutan.








