Aceh Utara — Hujan yang terus mengguyur Kabupaten Aceh Utara kembali memperparah kondisi pengungsian warga terdampak banjir. Sejumlah tenda pengungsian dilaporkan terendam air di beberapa kecamatan, membuat aktivitas pengungsi lumpuh dan memperbesar risiko krisis kesehatan serta keselamatan warga, Jumat 9 Januari 2026.
Investigasi lapangan menemukan kondisi terparah terjadi di Kecamatan Matangkuli, Lhoksukon, Tanah Jambo Aye, Samudera, dan Pirak Timu.
Di Kecamatan Matangkuli, tenda pengungsian warga Gampong Blang Kuta dan Punti Matangkuli berdiri di dataran rendah yang kembali tergenang setiap hujan turun.
Air merembes ke dalam tenda, membasahi alas tidur dan logistik bantuan. Warga tidak memiliki pilihan selain bertahan atau berpindah secara mandiri ke tempat yang lebih tinggi.
Di Tanah Jambo Aye, situasi tak kalah mengkhawatirkan. Tenda-tenda pengungsi di Gampong Paya Kulbi dan Alue Bungkoh terendam genangan bercampur lumpur. Lokasi pengungsian yang berdekatan dengan alur sungai dan sawah rawan banjir membuat setiap hujan lebat langsung berujung genangan. Hingga kini, belum terlihat relokasi menyeluruh ke zona aman.
Sementara itu di Lhoksukon, pengungsi di Gampong Ceubrek dan Meunasah Mee hidup dalam ketidakpastian. Tenda darurat berdiri tanpa alas lantai dan minim drainase. Setiap hujan, warga kembali mengangkat barang-barang seadanya agar tidak rusak. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan, sementara fasilitas sanitasi darurat nyaris tak berfungsi.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan mendasar, pengungsian dibangun tanpa berbasis peta risiko bencana. Tidak ada standar minimum lokasi aman, tidak ada penguatan infrastruktur dasar, dan minim pengawasan terhadap kualitas tenda serta kelengkapan pendukungnya. Akibatnya, hujan yang seharusnya bisa diantisipasi justru kembali menciptakan krisis baru di lokasi pengungsian.
Dampak lanjutan mulai terasa pada sektor kesehatan. Keluhan ISPA, penyakit kulit, dan diare meningkat seiring genangan yang bercampur lumpur dan limbah. Tim kesehatan memang turun ke lapangan, namun langkah ini bersifat reaktif, bukan preventif. Tanpa perbaikan sistem sanitasi dan relokasi tenda, ancaman wabah tetap menghantui.
Lebih jauh, situasi ini memunculkan pertanyaan serius soal kesiapan pemerintah daerah dalam pengelolaan bencana.
Berdasarkan penelusuran di lokasi pengungsian dan keterangan aparat gampong serta relawan, kondisi pengungsian tersebar sebagai berikut:
- Kecamatan Matangkuli
Gampong Blang Kuta
± 42 tenda, sekitar 165 jiwa - Gampong Punti Matangkuli
± 31 tenda, sekitar 120 jiwa
Sebagian besar tenda berada di dataran rendah bekas sawah. Saat hujan, air masuk ke dalam tenda setinggi mata kaki.
- Kecamatan Tanah Jambo Aye
Gampong Paya Kulbi
± 38 tenda, sekitar 140 jiwa - Gampong Alue Bungkoh
± 27 tenda, sekitar 98 jiwa
Lokasi pengungsian berdekatan dengan alur sungai dan tidak memiliki saluran pembuangan air.
- Kecamatan Lhoksukon
Gampong Ceubrek
± 24 tenda, sekitar 90 jiwa - Gampong Meunasah Mee
± 19 tenda, sekitar 73 jiwa
Total sementara:
- 181 tenda
- ±686 pengungsi
Angka ini belum termasuk pengungsi yang memilih tinggal di meunasah, rumah kerabat, atau mengungsi mandiri tanpa tercatat.
Warga di sejumlah gampong kini berharap lebih dari sekadar bantuan logistik. Mereka menuntut pengungsian yang benar-benar aman, hunian sementara yang layak, serta perencanaan bencana berbasis data dan risiko.
Tanpa itu, banjir di Aceh Utara bukan hanya bencana alam, melainkan cermin dari kegagalan tata kelola penanggulangan bencana.








