Home / Internasional / News

Jumat, 19 Desember 2025 - 15:35 WIB

Guru Besar Rusia, Connie Bakrie Tegur Presiden Prabowo, “Negara Tak Boleh Menunda Penyelamatan Korban Bencana”

Connie Rahakundini Bakrie, Guru Besar St Petersburg State University, Rusia. (Foto: Wikipedia)

Connie Rahakundini Bakrie, Guru Besar St Petersburg State University, Rusia. (Foto: Wikipedia)

St. Petersburg, Rusia — Guru Besar sekaligus Ambassador of Science and Education St Petersburg State University, Rusia, Connie Rahakundini Bakrie, mengirimkan surat terbuka bernada keras dan konstitusional kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terkait lambannya respons negara dalam penanganan bencana alam di wilayah Sumatra.

Dalam surat yang ditulis dari St. Petersburg tertanggal 18 Desember 2025, Connie menegaskan bahwa penyelamatan nyawa manusia tidak boleh dikalahkan oleh pertimbangan politik, reputasi, maupun kalkulasi masa lalu.

Menurutnya, negara tidak memiliki alasan hukum maupun moral untuk menunda respons kemanusiaan dalam situasi darurat.

“Ketika negara masih mempertimbangkan risiko politik dan implikasi masa lalu, rakyat di lapangan sedang kehilangan hak paling dasar, hak untuk hidup,” tulis Connie.

Ia mengingatkan bahwa Pasal 28A dan Pasal 28I UUD 1945 secara tegas menyatakan hak untuk hidup sebagai hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun, serta menempatkan Presiden sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung atas perlindungan hak tersebut.

Baca Juga |  Jembatan Darurat Bailey Jalur Lot Bener–Bener Pepanyi Mulai Dibangun TNI

Connie menyoroti kecenderungan negara yang membedakan penanganan bencana berdasarkan penyebabnya, khususnya ketika bencana berkaitan dengan kerusakan lingkungan.

Padahal, secara hukum dan etika, kata dia, bencana akibat ulah manusia justru menuntut respons yang lebih cepat dan tegas.

Baca Juga |  Aceh Resmi Darurat Bencana, Akses Putus dan Ribuan Warga Terdampak

Ia menilai bahwa penundaan status darurat, pembatasan bantuan, atau perlambatan akses kemanusiaan dengan dalih kehati-hatian politik merupakan bentuk kelalaian yang dilembagakan, bukan kepemimpinan.

“Akuntabilitas hukum atas kerusakan lingkungan memang wajib ditegakkan. Tetapi penegakan hukum harus datang setelah nyawa rakyat diselamatkan, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Dalam surat tersebut, Connie juga menyinggung dimensi global. Ia menilai bahwa dunia internasional saat ini tidak menilai Indonesia dari pernyataan resmi atau pidato negara, melainkan dari realitas di lapangan.

“Setelah 23 hari bencana, dunia melihat ada jarak antara pernyataan negara dan penderitaan rakyat. Di situlah kepercayaan runtuh,” tulisnya.

Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak mencatat alasan teknokratis atau kalkulasi politik, melainkan apakah negara hadir atau absen ketika rakyat berada dalam kondisi paling rentan.

Baca Juga |  Uang Kuliah Hilang Rp13 Juta Ditemukan dan Dikembalikan

“Di titik inilah kepemimpinan nasional diuji—bukan sebagai penjaga citra, tetapi sebagai penjaga kehidupan,” pungkas Connie.

Surat terbuka ini menambah daftar tekanan moral dan konstitusional kepada pemerintah pusat agar segera mengambil langkah tegas, cepat, dan terbuka dalam penanganan bencana di Sumatra, termasuk membuka ruang kemanusiaan seluas-luasnya demi keselamatan rakyat.

Reporter:
Editor:

Share :

Baca Juga

Dian Rubianty

News

Ombudsman Tegaskan Larangan Pungutan Sertifikasi Guru
Stop kekerasan terhadap anak.

Hukum & Kriminal

Empat Pemuda Jadi Tersangka Kekerasan Anak di Aceh Tengah, Flower Aceh Angkat Suara
Program Hibah Grassroots Jepang di Indonesia

News

Hibah Grassroots Jepang Dibuka, Peluang LSM dan Yayasan di Aceh–Sumatra
Ketua Posko Yabani, Dhulhadi bersama warga Babah Suak

News

Ketika Relawan Hadir: Kisah Anak-Anak Di Babah Suak, Langsung Masuk SD Tanpa TK
Dokumen pengumuman hasil Seleksi Terbuka JPT Pratama aceh

News

Direktur RSUZA Disaring, Rekam Jejak Pejabat Kembali Disorot dalam Seleksi JPT Aceh
Pelantikan pengurus LPSA

News

LPSA Resmi Dilantik, Perempuan Aceh Siap Ambil Peran Strategis
Road Show Yabani Berkisah

News

Cerita Kerajaan dan Kebersihan Warnai Road Show YABANI Berkisah di Bireuen
Misbah Hidayat, Mahasiswa UNMUHA

News

Surat Mahasiswa Aceh, Negara Bisa Membungkam, Nurani Tidak