Banda Aceh — Film bertajuk NOEH resmi diperkenalkan kepada publik dalam konferensi pers yang digelar di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh, Kamis (12/2/2026).
Film ini mengangkat kisah nyata orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang mengalami pemasungan, sekaligus menjadi media advokasi atas persoalan kesehatan mental di Aceh.
Dalam kegiatan tersebut, panitia juga memutar trailer perdana NOEH yang memperlihatkan potret memilukan praktik pemasungan ODGJ di sejumlah wilayah. Berdasarkan data yang dipaparkan, kasus pemasungan telah terkonfirmasi di 10 kabupaten/kota di Aceh.

Sutradara film NOEH, Davi, menjelaskan bahwa proses produksi film ini tidak hanya menuntut energi besar, tetapi juga keberanian untuk menyuarakan realitas yang selama ini tersembunyi.
“Film ini diangkat dari kisah nyata. Prosesnya sangat menguras tenaga karena kami turun langsung ke lapangan dan melibatkan hampir 50 talent, termasuk yang sudah berpengalaman. Kami ingin cerita ini tersampaikan secara jujur dan apa adanya,” ujar Davi.
Ia menambahkan, NOEH berfokus pada kisah seorang ODGJ yang dipasung oleh keluarganya akibat keterbatasan pemahaman dan minimnya akses layanan kesehatan jiwa. Film ini diharapkan menjadi refleksi sosial sekaligus pemantik kepedulian bersama.
Kepala RSJ Banda Aceh, dr. Hanif, mengungkapkan bahwa selama proses produksi film, sejumlah fakta sosial turut terkuak. Salah satunya adalah kisah dua ODGJ bersaudara yang terpisah dan baru kembali bertemu saat proses pembuatan film berlangsung.
“Ada banyak cerita yang selama ini tidak terlihat. Bahkan dalam beberapa kasus, perangkat desa dan kepala daerah setempat tidak mengetahui adanya warga yang dipasung. Mereka baru mengetahui setelah tim turun langsung ke lapangan,” jelas dr. Hanif.
Ia menyebutkan, praktik pemasungan yang terkonfirmasi saat ini tersebar di 10 kabupaten/kota. Pihaknya menegaskan bahwa film ini bukan sekadar karya sinematik, melainkan bagian dari upaya advokasi berbasis bukti.
“Kami ingin menunjukkan bahwa persoalan ini nyata dan membutuhkan kerja besar serta kolaborasi lintas sektor. Karena itu kami dokumentasikan dalam bentuk film agar menjadi bukti sekaligus dorongan bagi pihak yang memiliki kewenangan,” tegasnya.
Saat ini, RSJ Banda Aceh merawat 441 pasien. Selain layanan perawatan, pihak rumah sakit juga tengah mengembangkan rumah rehabilitasi di Kota Malaka dengan luas lahan sekitar 26 hektare. Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi pasien yang hampir pulih agar dapat menjalani proses reintegrasi sosial secara bertahap.
Dalam kesempatan yang sama, seorang penyintas yang telah pulih—disebut dengan istilah “polem”—menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan.
“Saya berterima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk pulih dan kembali menjalani hidup,” ujarnya haru.
Melalui film NOEH, para pembuatnya berharap isu kesehatan jiwa tidak lagi dipandang sebelah mata. Pemasungan dinilai bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan sosial, edukasi, dan keberpihakan kebijakan. Film ini dijadwalkan akan diputar secara lebih luas sebagai bagian dari kampanye kesadaran kesehatan mental di Aceh dan tingkat nasional.








