Banda Aceh — PGM Indonesia Wilayah Aceh resmi Apresiasi Pemenang Kompetisi Madrasah Young Researchers Aceh (MYRA) 2025 pada Senin, 2 Februari 2026.
Ajang yang digelar pada 24 November 2025 ini menjadi ruang strategis bagi pelajar madrasah di Aceh untuk menampilkan kreativitas, kompetensi ilmiah, serta karakter peneliti muda yang berintegritas.
MYRA 2025 dirancang sebagai wadah pengembangan riset pelajar madrasah dengan menanamkan nilai kejujuran akademik, sikap kritis, moderasi berpikir, serta kemampuan menghadirkan solusi berbasis penelitian. Nilai-nilai tersebut dinilai semakin relevan di tengah tantangan global dan derasnya arus informasi digital.
Ketua Panitia MYRA 2025, Nurmahni Harahap, M.Pd, menuturkan kompetisi ini bukan sekadar ajang lomba, melainkan proses pembelajaran untuk menumbuhkan budaya riset di lingkungan madrasah.
“MYRA kami rancang sebagai ekosistem pembelajaran riset. Kami ingin pelajar madrasah terbiasa berpikir ilmiah, kritis, dan solutif sejak dini, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” ujarnya.

Para finalis MYRA 2025 berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh, di antaranya Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Tengah, Bener Meriah, Banda Aceh, Aceh Barat, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Timur, Pidie, Sabang, hingga Lhokseumawe. Keberagaman daerah asal peserta menunjukkan pemerataan potensi dan minat riset di madrasah.
Apresiasi berupa proyektor dari sponsor Acer dianugerahkan kepada peraih Juara 1 sekaligus Best of The Best jenjang Madrasah Aliyah, yang diraih oleh Ratna Sari dan Nova Raudhalia dari MAN 4 Aceh Besar, di bawah bimbingan Eva Maulida, S.Pd., M.Pd. dan Neneng Novita Nursa, S.Pd.I. dengan judul penelitian “Dominasi Maskulin Tanpa Figur Ayah: Eksplorasi Pola Pikir Patriarkis Remaja Fatherless di Aceh.”
Pada jenjang Madrasah Tsanawiyah, penghargaan diraih oleh Wilda Vinessa dan Anugrah Wayu Mulia dari MTsN 3 Aceh Barat melalui penelitian “Emas Melambung, Nikah Berat Bung: Perspektif Masyarakat terhadap Tingginya Mahar Saat Harga Emas Meningkat.”
Sementara itu, Juara Favorit diraih oleh T.M. Faris Almairi Tsaqib, Wafa Mawaddah Saputra, dan Farah Izzatunnisa dari MTsN 2 Aceh Barat Daya dengan karya “Jejak Pahlawan Tanah Rencong: Menguak Sejarah Aceh melalui Game Edukatif Berbasis Unity.”
Nurmahni berharap MYRA dapat terus berlanjut dan diperluas cakupannya. “Kami ingin MYRA menjadi investasi jangka panjang dalam mencetak generasi pelajar madrasah yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global,” pungkasnya.
Melalui MYRA 2025, madrasah di Aceh menegaskan perannya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai keislaman, tetapi juga sebagai inkubator peneliti muda yang siap menjawab persoalan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan melalui pendekatan ilmiah.








