Home / News

Rabu, 24 Desember 2025 - 12:14 WIB

Penanganan Bencana Lamban, Koalisi Sipil Desak Gubernur Surati Presiden

Kondisi permukiman warga Aceh Tamiang dipenuhi lumpur pascabanjir. (Foto:Dok)

Kondisi permukiman warga Aceh Tamiang dipenuhi lumpur pascabanjir. (Foto:Dok)

Banda Aceh — Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana mendesak Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, segera mengirim surat resmi kepada Presiden RI Prabowo Subianto untuk menetapkan banjir dan longsor di Sumatra sebagai Bencana Nasional.

Desakan ini disampaikan, Rabu 24 Desember 2025, menyusul lambannya penanganan krisis kemanusiaan meski status darurat bencana daerah telah dua kali ditetapkan.

Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana terdiri dari sejumlah organisasi masyarakat sipil, lembaga bantuan hukum, lembaga riset, serta organisasi pers yang selama ini aktif dalam isu kemanusiaan, demokrasi, dan penegakan hak asasi manusia di Aceh. Lembaga-lembaga tersebut antara lain: Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh.

Baca Juga |  Cuaca Ekstrem Robohkan 5 Tower PLN, Listrik di Aceh Padam Meluas

Koalisi menilai, penanganan bencana di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra belum berjalan masif dan terukur. Hingga empat pekan pascabencana, ribuan warga masih bertahan di pengungsian, meunasah, dan balai desa. Lumpur, kayu, serta sisa material banjir masih menumpuk di permukiman warga, sementara akses air bersih belum sepenuhnya terpenuhi.

Baca Juga |  Tokoh Aceh Dorong Peran Pemuda Pasca-MoU Helsinki

Di Kabupaten Pidie Jaya, banjir di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu menyisakan lumpur setinggi hingga dua meter. Kondisi tersebut dinilai tidak mungkin ditangani dengan peralatan sederhana. Banyak warga terpaksa mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk membersihkan rumah, situasi yang dinilai memberatkan korban yang secara ekonomi terdampak bencana.

Sementara itu, di wilayah tengah Aceh, sebanyak 70.326 jiwa dilaporkan masih terisolasi akibat akses jalan terputus di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Meski beberapa jalur utama mulai dibuka, relawan dan bantuan masih harus menempuh medan berat, termasuk berjalan kaki melewati sungai dan jalur terputus.

Baca Juga |  Polda Aceh Ungkap Asal Sabu Thailand yang Akan Diedarkan ke Sumut

Koalisi menegaskan, masa tanggap darurat daerah fase kedua akan berakhir pada 25 Desember 2025. Tanpa penetapan status Bencana Nasional, proses rehabilitasi dan rekonstruksi dikhawatirkan tidak optimal dan membebani pemerintah daerah.

“Negara tidak bisa terus membiarkan situasi warga bantu warga, bahkan korban bantu korban. Pemerintah pusat harus segera mengambil alih kendali kebijakan,” tegas Koalisi dalam pernyataannya

Reporter:
Editor:

Share :

Baca Juga

Dian Rubianty

News

Ombudsman Tegaskan Larangan Pungutan Sertifikasi Guru
Stop kekerasan terhadap anak.

Hukum & Kriminal

Empat Pemuda Jadi Tersangka Kekerasan Anak di Aceh Tengah, Flower Aceh Angkat Suara
Program Hibah Grassroots Jepang di Indonesia

News

Hibah Grassroots Jepang Dibuka, Peluang LSM dan Yayasan di Aceh–Sumatra
Ketua Posko Yabani, Dhulhadi bersama warga Babah Suak

News

Ketika Relawan Hadir: Kisah Anak-Anak Di Babah Suak, Langsung Masuk SD Tanpa TK
Dokumen pengumuman hasil Seleksi Terbuka JPT Pratama aceh

News

Direktur RSUZA Disaring, Rekam Jejak Pejabat Kembali Disorot dalam Seleksi JPT Aceh
Pelantikan pengurus LPSA

News

LPSA Resmi Dilantik, Perempuan Aceh Siap Ambil Peran Strategis
Road Show Yabani Berkisah

News

Cerita Kerajaan dan Kebersihan Warnai Road Show YABANI Berkisah di Bireuen
Misbah Hidayat, Mahasiswa UNMUHA

News

Surat Mahasiswa Aceh, Negara Bisa Membungkam, Nurani Tidak