Banda Aceh – Pendidikan Politik dan Kepemimpinan Perempuan Aceh memasuki hari kedua, Kamis (15/10/2026), dengan agenda pemaparan materi oleh sejumlah narasumber yang berfokus pada penguatan wawasan politik, peran strategis perempuan, serta keterampilan kepemimpinan kader.
Kegiatan yang mengusung tema “Peran Inong Aceh Menjaga Marwah Nanggroe – Merapatkan Solidaritas Kader Perempuan Aceh” ini menghadirkan sejumlah pemateri untuk membekali peserta dengan pemahaman mengenai perjalanan politik Aceh, keterlibatan perempuan dalam ruang publik, hingga kesiapan menjadi pemimpin masa depan.
Materi pertama mengenai sejarah perdamaian Aceh dan partai lokal disampaikan oleh Ainal Mardhiah, S.Ag., M.Pd. Materi ini menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman peserta mengenai perjalanan perdamaian Aceh serta perkembangan politik lokal.
Selanjutnya, Dr. Salahuddin, M.Ag., memaparkan materi tentang peran strategis perempuan Aceh dalam menjaga marwah bangsa, mendidik generasi, dan mempersiapkan pemimpin masa depan.
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Hj. Maryati, M.Si., yang mengangkat tema perempuan dalam kontestasi publik. Materi ini menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam berbagai ruang publik dan politik, termasuk dalam proses pengambilan keputusan.
Pada sesi berikutnya, Dr. Fajran Zain menyampaikan materi keterampilan kepemimpinan perempuan Aceh. Sesi ini dilanjutkan dengan diskusi pemantapan sebagai ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman dan bertukar pandangan terkait materi yang telah disampaikan.
Ketua panitia, Hj. Ummi Kalsum, S.Pd., menegaskan bahwa penguatan kapasitas perempuan melalui pendidikan politik perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kader perempuan memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan yang memadai dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.
“Perempuan Aceh harus terus memperkuat pengetahuan politik, membangun solidaritas, dan meningkatkan kemampuan kepemimpinan. Kita ingin kader perempuan tidak hanya hadir dalam dinamika politik, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan, mengambil peran strategis, serta ikut menentukan arah pembangunan Aceh dengan tetap menjaga marwah dan nilai-nilai luhur Nanggroe,” ujar Ummi Kalsum.
Ia berharap materi yang disampaikan para narasumber dapat menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan kapasitas diri, memperkuat kerja sama antarkader, dan meningkatkan kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial maupun politik.
Melalui rangkaian materi dan diskusi tersebut, pendidikan politik ini diharapkan mampu melahirkan kader perempuan Aceh yang berwawasan luas, berintegritas, dan memiliki kesiapan untuk mengambil peran dalam kepemimpinan serta pembangunan daerah.









