Banda Aceh — Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Provinsi Aceh menunjukkan perkembangan signifikan. Hal ini terungkap dalam kegiatan media gathering yang digelar di Banda Aceh, Selasa (7/4/2026), yang menghadirkan sejumlah kementerian dan lembaga terkait.
Kepala Posko Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, Safrizal ZA, menyampaikan bahwa pemulihan pascabencana berjalan dengan capaian positif di berbagai sektor strategis. Sejumlah infrastruktur penting seperti fasilitas kesehatan, jembatan, rumah ibadah, sarana pendidikan, serta akses jalan dilaporkan telah rampung hingga 100 persen di beberapa wilayah terdampak.
“Pemulihan berjalan relatif cepat dengan progres yang cukup baik. Ini hasil kolaborasi lintas sektor,” ujar Safrizal.
Meski demikian, pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) masih terus dikebut. Hingga saat ini, sekitar 104 unit hunian tetap telah berhasil dibangun. Pemerintah menekankan pentingnya aspek keamanan dalam penentuan lokasi hunian agar tidak berada di kawasan rawan bencana.
Di sektor pertanian, upaya pemulihan juga menunjukkan hasil positif. Sekitar 42.700 hektare lahan sawah telah dibersihkan dan siap kembali digunakan oleh masyarakat. Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan ketahanan pangan dan ekonomi warga terdampak.
Pemulihan dilakukan secara bertahap di 19 kabupaten/kota di Aceh, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Sementara itu, aktivitas ekonomi masyarakat mulai kembali bergerak, ditandai dengan beroperasinya pasar dan pusat kuliner di sebagian besar wilayah, meski beberapa daerah seperti Aceh Tengah dan Nagan Raya masih dalam tahap pemulihan.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh proses rehabilitasi berjalan tepat waktu melalui pengawasan berkelanjutan dan sinergi lintas sektor.
“Dengan kolaborasi semua pihak, kami optimistis pemulihan dapat segera tuntas dan masyarakat kembali beraktivitas normal,” kata Safrizal.








