Home / Banda Aceh / Ekonomi Bisnis

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:11 WIB

OJK Ungkap Ketahanan Industri Keuangan Aceh di Tengah Krisis Iklim

Kepala OJK Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, memberikan pernyataan dalam sarasehan bertajuk Secangkir Kupi Sejuta Gagasan untuk Ketahanan Ekonomi Aceh bersama insan media di Banda Aceh. (Foto:Dok/LamanNews)

Kepala OJK Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, memberikan pernyataan dalam sarasehan bertajuk Secangkir Kupi Sejuta Gagasan untuk Ketahanan Ekonomi Aceh bersama insan media di Banda Aceh. (Foto:Dok/LamanNews)

Banda Aceh – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh memastikan kinerja industri jasa keuangan di Aceh tetap berada dalam tren positif meski dibayangi ancaman perubahan iklim dan potensi El Nino yang berisiko mengganggu sektor pertanian, tulang punggung perekonomian daerah.

Pernyataan itu disampaikan Kepala OJK Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, dalam sarasehan bertajuk Secangkir Kupi, Sejuta Gagasan untuk Ketahanan Ekonomi Aceh bersama insan media di Banda Aceh, Kamis (9/7).

Menurut Daddi, sektor pertanian masih menyumbang sekitar 31,70 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh. Karena itu, perubahan pola cuaca akibat El Nino berpotensi memengaruhi produksi pangan, pasokan, hingga stabilitas harga. Dalam kondisi tersebut, sektor jasa keuangan menjadi penopang penting untuk menjaga aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha tetap berjalan.

Baca Juga |  Residivis Bobol Rumah, Tim Rimueng Koetaradja Ringkus Pelaku

“Kinerja perbankan syariah di Aceh terus menunjukkan tren yang positif. Bank Umum Syariah maupun BPRS mencatatkan pertumbuhan, baik dari sisi penghimpunan dana masyarakat maupun penyaluran pembiayaan kepada sektor produktif. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan syariah,” ujar Daddi.

Hingga Mei 2026, total aset Bank Umum Syariah di Aceh mencapai Rp65,05 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp49,24 triliun, dan pembiayaan meningkat menjadi Rp49,95 triliun. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) juga tetap terjaga di level 2,16 persen, jauh di bawah ambang batas 5 persen.

Baca Juga |  Akun Facebook Palsu Catut Nama Mualem, Warga Aceh Diimbau Waspada

Namun, OJK mencatat kebutuhan pembiayaan di Aceh masih lebih besar dibanding dana yang berhasil dihimpun perbankan. Kondisi itu terlihat dari pembiayaan berdasarkan lokasi proyek yang mencapai Rp56,86 triliun, lebih tinggi dibanding pembiayaan berdasarkan lokasi bank sebesar Rp49,95 triliun. OJK menilai Aceh memerlukan arus investasi baru serta inovasi produk pembiayaan agar kebutuhan modal masyarakat dan pelaku usaha dapat terpenuhi.

Di sisi lain, OJK juga terus memperkuat perlindungan konsumen. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, OJK Aceh menerima 424 pengaduan masyarakat, melaksanakan 24 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 6.489 peserta, serta terus mengawasi praktik pelaku usaha jasa keuangan di daerah.

Baca Juga |  OJK Pastikan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Nasional

Terkait pemulihan pascabencana, OJK mencatat restrukturisasi kredit bagi debitur terdampak banjir dan longsor di Aceh telah mencapai Rp15,3 triliun dengan 201.269 nasabah hingga Juni 2026.

“OJK bersama pelaku usaha jasa keuangan di Aceh berkomitmen mendukung percepatan pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana melalui kebijakan restrukturisasi dan perlakuan khusus kredit atau pembiayaan yang tepat, terukur, dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” tegas Daddi.

Reporter: ,
Editor:

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Kasdam IM Pimpin Sertijab dan Beri Penghargaan Prajurit

Bireuen

OJK Aceh Serahkan 1.150 Rekening Pelajar di Bireuen
Maulid nabi Muhammad Saw

Banda Aceh

PAUD Intan Payong Gelar Khanduri Maulid

Banda Aceh

Wagub dan DPRA Bahas Percepatan Qanun APBA

Banda Aceh

Kalapas Banda Aceh Perintahkan Razia Rutin

Banda Aceh

Polwan Sabang Promosikan Wisata Bahari Lewat Diving

Banda Aceh

Aipda Jonni Rahmad, Polisi yang Bangun Rumah untuk Fakir Miskin

Banda Aceh

Pangdam IM Pimpin Sidang Pemilihan 285 Calon Bintara TNI AD