Banda Aceh – Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, mendorong penguatan kepemimpinan perempuan sekaligus terciptanya dunia kerja yang adil, aman, manusiawi, dan inklusif.
Hal tersebut disampaikan Riswati melalui materi bertajuk “Kepemimpinan Perempuan dan Pekerja Muda untuk Dunia Kerja yang Adil dan Inklusif” pada 3 September 2026.
Riswati menegaskan, karier perempuan tidak semestinya dibangun dengan mengorbankan kehidupan, kesehatan, kebahagiaan, maupun dirinya sendiri. Menurutnya, karier bukan hanya persoalan jabatan atau besarnya penghasilan, tetapi juga menyangkut agensi perempuan dalam menentukan arah hidup tanpa tekanan sosial dan rasa bersalah.
Ia menilai perempuan selama ini masih menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi perempuan dituntut mandiri dan sukses, namun di sisi lain tetap diharapkan bersikap lembut dan patuh.
“Masalahnya bukan pada perempuan, tapi pada struktur sosial yang belum adil,” demikian perspektif yang disampaikan dalam materi tersebut.
Menurut Riswati, pekerjaan seharusnya menjadi ruang bagi seseorang untuk tumbuh tanpa kehilangan martabat dan kemanusiaannya. Karena itu, lingkungan kerja perlu memberikan ruang tumbuh sekaligus menghargai hak atas istirahat, kebahagiaan, dan tubuh sendiri.
Ia juga mendorong perubahan cara pandang terhadap makna kesuksesan. Kesuksesan tidak harus selalu identik dengan pengorbanan. Perempuan berhak menolak pekerjaan yang tidak manusiawi, memilih karier sesuai nilai hidup, serta berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Riswati menilai terciptanya dunia kerja yang ramah perempuan membutuhkan perubahan sistem, bukan hanya tuntutan kepada individu.
Sejumlah dukungan yang diperlukan antara lain cuti dan fleksibilitas kerja, dukungan pengasuhan, perhatian terhadap kesehatan mental, serta budaya kerja yang mengedepankan empati dan kolaborasi.
Dalam perspektif Flower Aceh, kesetaraan gender juga harus memastikan pengalaman, kebutuhan, aspirasi, dan potensi perempuan diperhitungkan dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja.
“Tidak cukup hanya ada aturan; hak harus dapat diakses dan ditegakkan,” menjadi salah satu penekanan dalam materi tersebut.
Dalam pembahasan kepemimpinan, Riswati menjelaskan bahwa pemimpin dan kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Kepemimpinan mencerminkan karakter dan perilaku seorang pemimpin.
Ia kemudian memperkenalkan konsep Leadership Diamond Feminist yang mengadaptasi model Koestenbaum dengan empat prinsip utama, yakni Vision, Reality, Ethics, dan Courage.
Dalam perspektif feminis, Vision diarahkan pada terwujudnya masyarakat yang setara dan adil gender. Reality menuntut keberanian mengakui ketidakadilan gender dan marginalisasi. Ethics mengedepankan kepedulian, solidaritas, dan keadilan sosial, sementara Courage menekankan keberanian melawan diskriminasi dan struktur yang tidak adil.
Riswati menegaskan pentingnya kepemimpinan yang mampu memastikan pengalaman, nilai, perspektif, aspirasi, kebutuhan, serta potensi perempuan dan laki-laki terpenuhi secara adil.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan yang setara sehingga pembangunan berlangsung secara demokratis dan inklusif.









