Banda Aceh — Flower Aceh bersama sejumlah organisasi mahasiswa menggelar workshop bertema kepemimpinan perempuan dan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja yang adil dan inklusif. Kegiatan tersebut berlangsung di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (2/9/2026).
Workshop ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk memahami pentingnya kepemimpinan perempuan, perlindungan hak pekerja, serta kesiapan memasuki dunia kerja dengan perspektif yang lebih adil dan setara.
Kegiatan Workshop ini dilaksanakan oleh Flower Aceh, Prodi AFI, Prodi SA, Prodi PMI, dan Himpunan AFI UIN Ar-Raniry , Forhati Aceh, Sekolah HAM Perempuan Flower Aceh dengan dukungan INSPIR Asia dan WSM (We Social Movement) dan Narasumber di antaranya Gebrina Rezeki dari Sekolah HAM Flower Aceh, Amrina Habibi dari Bagian Hukum Sekretariat Daerah Aceh, Muhammad Reza dari BPJS Ketenagakerjaan, serta Direktur Flower Aceh, Riswati serta Korwil KSBSI, T Ayatullah Bani Baeit
Ketua Sekolah HAM Flower Aceh, Gabrina Rezeki, mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung dan menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, workshop tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak dan diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pentingnya mempersiapkan diri sebelum memasuki ruang kerja maupun bidang lainnya.
“Kegiatan ini diharapkan memberikan pemahaman kepada anak-anak muda tentang pentingnya menyiapkan diri, baik di ruang kerja maupun dalam bidang lainnya,” ujar Gabrina.
Sementara itu, Muhammad Reza dari BPJS Ketenagakerjaan mendorong generasi muda yang telah bekerja untuk mulai memahami dan memanfaatkan program perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan sejak dini.
Ia menjelaskan, BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan bagi pekerja, antara lain ketika mengalami kecelakaan kerja maupun risiko meninggal dunia.
“BPJS Ketenagakerjaan sebaiknya menjadi salah satu langkah utama bagi anak-anak muda yang sudah bekerja. Perlindungan ini sebenarnya dibutuhkan oleh semua orang yang bekerja, sehingga lebih baik dipersiapkan sejak awal,” katanya.
Reza menambahkan, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan juga dapat menjadi bagian dari persiapan jangka panjang bagi pekerja melalui program-program jaminan sosial yang tersedia.
Pada kesempatan yang sama, Amrina Habibi memaparkan mengenai perlindungan hak pekerja di Aceh berdasarkan analisis terhadap Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2024. Salah satu ketentuan yang dibahas berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hak pekerja sebagaimana diatur dalam Pasal 19.
Pembahasan tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai aspek hukum ketenagakerjaan, khususnya hak-hak yang melekat pada pekerja perempuan.
Direktur Flower Aceh, Riswati, turut mengapresiasi pelaksanaan workshop yang digagas melalui keterlibatan mahasiswa magang di Flower Aceh.
Menurut Riswati, pemahaman terhadap hak pekerja perempuan perlu terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda yang akan memasuki dunia kerja.
“Hal yang harus kita pahami adalah kesadaran bahwa kita memiliki hak-hak sebagai pekerja. Khususnya pekerja perempuan, pemahaman mengenai hak tersebut penting agar perempuan mampu memperjuangkan perlindungan dan lingkungan kerja yang adil,” ujar Riswati.
Ia menilai, peningkatan literasi mengenai hak ketenagakerjaan menjadi bagian penting dalam membangun dunia kerja yang lebih aman, setara dan inklusif.
Melalui kegiatan tersebut, Flower Aceh berharap mahasiswa dan generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan kepemimpinan, tetapi juga memahami hak, perlindungan serta tanggung jawab ketika memasuki dunia kerja.









