Takengon — Road Show YABANI Berkisah yang digagas Yayasan Bina Anak Usia Dini (YABANI) terus bergerak menyusuri wilayah Aceh. Memasuki hari keempat, kegiatan ini menyapa anak-anak di Desa Mendele, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (23/1/2026), dengan misi utama menghadirkan pemulihan psikososial sekaligus menanamkan nilai syukur dan ketangguhan sejak usia dini.
Wilayah dataran tinggi Gayo menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian road show ini. Selain memiliki tantangan geografis tersendiri, kawasan ini juga pernah merasakan dampak bencana alam yang meninggalkan trauma, terutama bagi anak-anak.
Kehadiran relawan YABANI bersama pendongeng nasional Kak Bimo menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk kembali tertawa, belajar, dan membangun optimisme.
Ketua Posko YABANI, Dhulhadi, menyampaikan rasa bahagianya dapat kembali berjumpa langsung dengan anak-anak di Aceh Tengah. Menurutnya, setiap titik road show selalu menghadirkan cerita dan energi yang berbeda, namun satu benang merah yang sama, semangat anak-anak untuk bangkit.
“Kami senang bisa berjumpa dengan adik-adik di sini. Hari ini semoga kita semua bisa bergembira, belajar bersama, dan tetap semangat menghadapi hari-hari ke depan,” ujar Dhulhadi di sela kegiatan.
Sesi utama kegiatan diisi oleh Kak Bimo, perwakilan Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) Pusat.

Dalam gaya khasnya yang komunikatif dan penuh ekspresi, Kak Bimo menyampaikan kisah-kisah tentang kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur yang diajarkan dalam nilai-nilai Islam.
Ia menekankan bahwa musibah bukan hanya dialami masyarakat pesisir atau daerah rawan banjir, tetapi juga dapat terjadi di wilayah pegunungan. Karena itu, sikap mental dalam menghadapi cobaan menjadi kunci utama.
“Musibah bisa datang di mana saja, di laut, di gunung, atau di kota. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan sabar dan tetap bersyukur,” tutur Kak Bimo di hadapan anak-anak.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Kak Bimo membagikan pengalamannya saat bertemu anak-anak di jalur Gaza, Palestina. Ia menggambarkan bagaimana anak-anak yang hidup di tengah konflik dan keterbatasan tetap mampu tersenyum dan menunjukkan rasa syukur yang luar biasa.
“Kalau mereka bisa tersenyum di tengah kondisi sulit, maka kita juga pasti bisa kuat menghadapi ujian hidup kita,” katanya, disambut anggukan dan sorak anak-anak.
Metode berkisah Kak Bimo tidak hanya mengandalkan cerita verbal. Ia kerap menirukan suara tokoh kartun, mengajak anak-anak berinteraksi, serta menyelipkan humor ringan yang membuat suasana cair.
Anak-anak Desa Mendele terlihat antusias, tertawa lepas, dan aktif menjawab pertanyaan sepanjang sesi berlangsung.
Pendekatan ini dinilai efektif untuk membangun kedekatan emosional, sekaligus menyampaikan pesan moral tanpa kesan menggurui. Bagi YABANI, metode ini merupakan bagian penting dari strategi trauma healing yang ramah anak.
Kegiatan kemudian berlanjut pada sore hari di TPA Al-Qudus, Desa Mendele. Di hadapan para santri, Kak Bimo kembali menyampaikan cerita inspiratif dengan penekanan pada ketangguhan mental, keimanan, dan optimisme masa depan. Suasana religius berpadu dengan cerita yang ringan, membuat pesan mudah dipahami oleh anak-anak berbagai usia.
YABANI menilai bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan perbaikan fisik dan bantuan logistik. Aspek mental dan emosional anak-anak harus menjadi perhatian serius, karena akan berpengaruh langsung pada masa depan mereka.
Melalui “Road Show YABANI Berkisah,” YABANI berupaya menghadirkan ruang aman dan edukatif bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan, membangun kepercayaan diri, serta menumbuhkan karakter positif.
“Ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah investasi mental bagi generasi Aceh ke depan,” ujar salah satu relawan Yabani.
Road Show Yabani Berkisah dijadwalkan terus berlanjut ke wilayah lain di Aceh.
YABANI berharap sinergi antara relawan, pendidik, dan masyarakat lokal dapat memperkuat ketahanan anak-anak, terutama di daerah yang rentan terhadap bencana.








