Banda Aceh — T Rayuan Sukma terpilih sebagai Pembina Terbaik Olahraga Berprestasi Tahun 2026 dalam Malam Penghargaan bagi insan dan pelaku olahraga di Gedung Serba Guna SHB, Sabtu malam (12/9/2026).
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan dedikasi T Rayuan Sukma dalam mendukung pembinaan olahraga berprestasi. Ia menilai penghargaan tersebut bukan semata pencapaian pribadi, tetapi pemicu semangat bagi para pelaku olahraga untuk terus berkontribusi.
“Penghargaan ini menjadi pemicu bagi para pelaku olahraga untuk terus bekerja dan berkontribusi tanpa pamrih,” ujar T Rayuan Sukma.
Ia juga mengapresiasi pemerintah melalui Dinas Pemuda dan Olahraga yang dinilai telah memberikan perhatian terhadap perkembangan olahraga serta para pelakunya.
Menurutnya, kehadiran pemerintah tidak cukup diwujudkan melalui kompetisi dan penghargaan. Pemerintah juga perlu hadir dalam pembinaan, pemberian peluang kerja, serta membuka kesempatan bagi mantan atlet atau pelaku olahraga untuk berkontribusi sebagai pelatih.
“Kita juga melihat pemerintah hadir untuk para pelaku olahraga, baik dari sisi pembinaan, pemberian peluang kerja, maupun membuka kesempatan bagi mereka untuk menjadi pelatih,” katanya.
Penghargaan sebagai Pembina Terbaik Olahraga Berprestasi Tahun 2026 tersebut bukan kali pertama diterima T Rayuan Sukma. Ia tercatat telah 10 kali memperoleh penghargaan serupa, yang menunjukkan konsistensinya dalam mendukung pembinaan dan pengembangan olahraga.
Meski demikian, T Rayuan Sukma berharap perhatian pemerintah terhadap atlet dan penggiat olahraga ke depan semakin optimal dan dilakukan secara sungguh-sungguh. Menurutnya, penghargaan penting sebagai bentuk apresiasi, tetapi tidak cukup tanpa upaya nyata menjamin masa depan atlet.
“Harapannya, pemerintah harus lebih optimal dan bersungguh-sungguh untuk para atlet dan para penggiat olahraga. Tidak cukup hanya dengan memberikan penghargaan, tetapi juga harus menghargai dan memberikan masa depan kepada mereka,” tegasnya.
Ia menilai masa depan atlet masih menjadi tantangan dalam pengembangan olahraga. Tidak sedikit orang tua yang ragu memberikan izin kepada anaknya menekuni dunia olahraga karena menganggap profesi atlet belum mampu menjamin kehidupan mereka di masa mendatang.
“Banyak kita melihat orang tua yang tidak memberikan izin kepada anaknya menjadi atlet karena menurut mereka menjadi atlet tidak menjamin masa depan anak mereka,” ujarnya.
Karena itu, pembangunan ekosistem olahraga perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembinaan atlet sejak usia dini, peningkatan kesejahteraan, kesempatan kerja setelah masa atlet, hingga peluang berkarier sebagai pelatih.
Malam penghargaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi momentum memperkuat komitmen seluruh pihak dalam membangun masa depan olahraga dan para insan di dalamnya.









