Banda Aceh – Pengurus Besar Organisasi Alumni dan Ex Santri Madrasah Ulumul Quran (MUQ) menggelar Economic Energy and Sustainability Forum bertajuk “From Resources to Prosperity: Energi, Investasi dan Keuangan Syariah untuk Masa Depan Ekonomi Aceh”, di Landmark BSI Banda Aceh, Jumat (6/11/2026).
Forum tersebut menjadi ruang diskusi strategis untuk membahas bagaimana potensi sumber daya energi Aceh dapat dikelola secara optimal dan berkelanjutan guna mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Direktur Utama PT PEMA Global Energi (PGE), Firdaus Noezula, S.T., M.Si.; Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Mawardi Nur; Guru Besar Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Hafas Furqani, M.Ec.; serta anggota Komisi III DPRA, Muhammad Rizky, S.E.
Diskusi dipandu oleh Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh, Muhammad Harun, dan diikuti para alumni serta mantan santri MUQ.
Ketua Umum Alumni MUQ, Ayub Bustaman, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Bank Syariah Indonesia (BSI) yang telah memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Ia berharap kerja sama yang terjalin tidak berhenti pada kegiatan kali ini, tetapi dapat terus berlanjut dalam berbagai program yang memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh.
“Terima kasih kepada BSI yang telah menyediakan tempat. Kami berharap ini bukan menjadi satu-satunya bentuk kerja sama, tetapi menjadi awal kemitraan yang berkelanjutan. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan sekaligus mempererat silaturahmi ant alumni,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan BSI Regional 1 Aceh, Hilwasi, menyambut positif pelaksanaan forum tersebut. Ia berharap para peserta dapat menyerap berbagai gagasan dan pengetahuan yang disampaikan para narasumber untuk kemudian dikembangkan menjadi pemikiran dan kontribusi nyata bagi pembangunan Aceh.
Hilwasi juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada BSI. Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan BSI hingga berkembang menjadi bank milik negara.
Ia menjelaskan, BSI terus memperluas layanan dan kontribusinya, tidak hanya sebagai lembaga perbankan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat melalui berbagai kemudahan layanan keuangan, termasuk produk cicil emas dan pengembangan layanan digital BYOND by BSI.
Dalam kesempatan tersebut, Hilwasi turut menyebutkan bahwa kontribusi BSI telah mencapai Rp14 triliun. Ia berharap forum ini dapat melahirkan ide-ide konstruktif yang mendorong kolaborasi antara sektor perbankan, pemerintah, dunia usaha, dan kalangan akademisi.
Pada sesi pemaparan materi, Firdaus Noezula mengangkat tema “Mengubah Potensi Energi Menjadi Kemakmuran Aceh”, yang membahas pentingnya mengoptimalkan sumber daya energi agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Selanjutnya, Kepala BPMA Mawardi Nur memaparkan materi mengenai pengelolaan hulu migas dalam wilayah kewenangan Aceh, termasuk pentingnya tata kelola sektor migas untuk mendukung keberlanjutan industri energi.
Anggota Komisi III DPRA, Muhammad Rizky, menyampaikan materi tentang kerangka regulasi dan tata kelola, sementara Prof. Dr. Hafas Furqani membahas potensi energi terbarukan sebagai salah satu peluang strategis dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan memperoleh pemahaman lebih luas mengenai tantangan dan peluang pengelolaan energi Aceh, mulai dari aspek investasi, regulasi, tata kelola hingga pembiayaan berbasis syariah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab untuk memberikan ruang kepada peserta dalam menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta gagasan terkait masa depan sektor energi dan ekonomi Aceh.
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki jaringan alumni luas, MUQ sendiri dikenal sebagai salah satu pesantren besar di Aceh dengan jumlah santri mencapai lebih dari 5.000 orang. Potensi jaringan alumni dan sumber daya intelektual tersebut diharapkan dapat menjadi kekuatan dalam mendorong lahirnya gagasan serta kontribusi nyata bagi pembangunan Aceh.









