Banda Aceh – Flower Aceh menyampaikan keprihatinan atas peristiwa kekerasan dan penembakan terhadap warga di Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka. Peristiwa tersebut dinilai menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan masyarakat, perlindungan hak asasi manusia, serta keberlanjutan perdamaian di Aceh.
Koordinator Program Flower Aceh, Ernawati, mengatakan segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil, terlebih yang turut berdampak pada perempuan dan anak, perlu mendapat perhatian dan penanganan serius.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Kami berharap peristiwa penyerangan terhadap warga sipil di Pulo Kenari, Pidie, dapat diusut secara menyeluruh, transparan, dan memberikan keadilan bagi para korban,” ujarnya.
Perhatian terhadap dampak kekerasan juga disampaikan Direktur Yayasan Darah untuk Aceh, Nurjanah Husein. Ia menyoroti dugaan kekerasan yang dialami Muhammad Rayyan (10 tahun), yang disebut berusaha melindungi ibunya saat insiden di Tiro terjadi.
Menurutnya, perempuan dan anak membutuhkan perlindungan khusus dari segala bentuk kekerasan. Dampak peristiwa tersebut tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga dapat meninggalkan trauma psikologis.
“Kami berharap kasus ini dapat ditangani secara transparan dan independen. Anak-anak Aceh berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, tanpa rasa takut dan trauma akibat kekerasan,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, menegaskan bahwa perlindungan hak hidup dan rasa aman merupakan tanggung jawab negara yang harus dijamin bagi seluruh masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa peristiwa kekerasan tidak hanya berdampak kepada korban secara langsung, tetapi juga terhadap keluarga dan lingkungan sosial. Perempuan yang kehilangan anggota keluarga dapat menghadapi beban ekonomi dan pengasuhan, sementara anak-anak berisiko mengalami trauma akibat menyaksikan peristiwa tersebut.
“Persoalan keamanan harus ditangani dengan tetap mengedepankan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Hak hidup dan rasa aman merupakan hak setiap warga, termasuk perempuan dan anak,” kata Riswati.
Ia juga menilai persoalan simbol, identitas, maupun ekspresi politik masyarakat perlu diselesaikan melalui dialog, pendekatan sipil, dan mekanisme demokratis. Hal tersebut penting agar berbagai persoalan tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan masyarakat.
Atas peristiwa tersebut, Flower Aceh menyampaikan sejumlah harapan dan desakan kepada pihak terkait.
Pertama, meminta Pangdam Iskandar Muda memastikan proses penanganan kasus berjalan transparan dan menyeluruh, termasuk mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Kedua, mendorong Komnas HAM melakukan penyelidikan independen untuk memastikan fakta serta menjamin hak korban atas kebenaran, keadilan, dan pemulihan.
Ketiga, meminta Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Pidie memberikan perhatian terhadap kondisi korban dan keluarga terdampak, melalui layanan kesehatan, dukungan psikososial, pendampingan hukum, serta bantuan sosial-ekonomi.
Keempat, memastikan perempuan, anak, saksi, dan masyarakat terdampak memperoleh perlindungan dari intimidasi maupun ancaman lanjutan.
Kelima, mendorong semua pihak mengedepankan dialog dan pendekatan yang humanis dalam menyelesaikan persoalan masyarakat dengan tetap menghormati kekhususan dan perdamaian Aceh.
Flower Aceh berharap peristiwa di Tiro menjadi perhatian bersama agar perlindungan masyarakat sipil semakin diperkuat. Perdamaian Aceh harus terus dijaga melalui penghormatan terhadap hak asasi manusia, keadilan, dialog, dan jaminan rasa aman bagi seluruh masyarakat.









