Banda Aceh – Sebanyak 50 guru Sekolah Dasar (SD) dari berbagai sekolah di Kota Banda Aceh mengikuti hari kedua pelatihan pengelolaan sampah bertajuk FOLU Goes to School yang dipusatkan di KamiKITA Community Center, Rabu (23/07/2026).
Kegiatan ini menitikberatkan pada pembelajaran lapangan guna memperkuat pemahaman guru mengenai praktik pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular sebagai upaya mendukung Program Adiwiyata dan target FOLU Net Sink 2030.
Selama pelatihan, peserta diperkenalkan dengan berbagai praktik pengelolaan sampah, pertanian organik, serta pemberdayaan masyarakat berbasis keberlanjutan. Para guru diajak melihat secara langsung bagaimana sampah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, sosial, sekaligus manfaat bagi lingkungan.
Pada sesi pertama, Pemateri Henny Cahyanti menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku manusia.
“Masalah sampah bersifat psikologis. Yang harus diperbaiki bukan hanya sampahnya, tetapi juga perilaku manusianya,” ujarnya.
Menurut Henny, perubahan perilaku harus dimulai dari lingkungan sekolah melalui keteladanan para guru sehingga budaya peduli lingkungan dapat tertanam sejak dini kepada peserta didik.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari pemateri Amber Desist mengenai pemanfaatan limbah kaca dan plastik menjadi berbagai produk kreatif melalui konsep ekonomi sirkular. Para guru didorong menerapkan pembelajaran berbasis proyek yang memanfaatkan sampah sebagai media pembelajaran untuk menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan jiwa kewirausahaan siswa.
Peserta juga mengunjungi Kebun Organik KamiKITA. Kebun tersebut menjadi contoh ruang hijau yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati sekaligus berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim. Dari kunjungan tersebut, para guru memperoleh inspirasi untuk mengembangkan kebun sekolah sebagai laboratorium hidup bagi pembelajaran sains dan pendidikan lingkungan.
Pada sesi praktik, pemateri Edi Ginting, memperagakan teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos dan media tanam. Menurutnya, pengelolaan sampah organik di lingkungan sekolah mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) sekaligus membantu menekan emisi gas rumah kaca.
Sepanjang kegiatan, para peserta aktif berdiskusi, mengamati proses pengelolaan sampah, serta mencoba berbagai teknik yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing. Sebagai tindak lanjut, setiap guru menyusun rencana aksi pengelolaan sampah yang akan diimplementasikan di lingkungan sekolah.
Pada penutupan kegiatan, ketua panitia, Mudassir mengingatkan agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi awal lahirnya gerakan nyata membangun sekolah yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
“Pelatihan ini bukanlah garis akhir, tetapi titik awal sebuah gerakan. Mulailah dari hal-hal sederhana seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengelola sampah organik. Ketika guru bergerak, sekolah akan berubah, dan ketika sekolah berubah, masyarakat pun akan ikut berubah,” katanya.
Melalui program FOLU Goes to School, para guru diharapkan menjadi penggerak utama pendidikan lingkungan di sekolah dasar sekaligus mendorong lahirnya sekolah-sekolah Adiwiyata baru di Kota Banda Aceh yang berkontribusi terhadap pengurangan sampah, pelestarian lingkungan, dan pencapaian target FOLU Net Sink 2030.









