Home / Aceh Utara / Lingkungan

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:02 WIB

Huntara Rusak Diterjang Hujan, Efektivitas Anggaran Dipertanyakan

Lokasi Huntara Desa Gedumbak yang rusak parah akibat diterjang hujan lebat & angin badai. (Foto:Dok/Ist)

Lokasi Huntara Desa Gedumbak yang rusak parah akibat diterjang hujan lebat & angin badai. (Foto:Dok/Ist)

Aceh Utara – Kerusakan Hunian Sementara (Huntara) di Desa Gedumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, akibat hujan dan angin kencang pada Selasa (2/6/2026), memicu sorotan terhadap kualitas pembangunan hunian bagi korban bencana.

Bangunan yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi masyarakat terdampak justru mengalami kerusakan saat menghadapi cuaca yang relatif lazim terjadi di Aceh. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas konstruksi serta efektivitas penggunaan anggaran yang telah digelontorkan untuk program pemulihan pascabencana.

Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada kenyamanan warga, tetapi juga memunculkan kekhawatiran bahwa pembangunan Huntara belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek ketahanan bangunan dan kebutuhan jangka panjang masyarakat.

Baca Juga |  LPSK Gelar Sosialisasi Perlindungan Saksi dan Korban di Banda Aceh

Sejumlah kalangan menilai kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius. Anggaran pemulihan bencana yang bersumber dari dana publik semestinya menghasilkan bangunan yang aman, layak, dan mampu bertahan menghadapi kondisi cuaca setempat. Apabila bangunan mengalami kerusakan dalam waktu singkat, maka wajar apabila muncul pertanyaan mengenai kualitas perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proyek.

Di sisi lain, pendekatan berbasis kearifan lokal yang pernah diterapkan sejumlah lembaga kemanusiaan seperti Rumah Zakat dan Islamic Relief Indonesia dinilai layak menjadi pertimbangan. Melalui konsep rumah tumbuh berbahan dasar papan, masyarakat tidak hanya memperoleh hunian sementara, tetapi juga aset yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Baca Juga |  Gerakan Perempuan Aceh Gelar “Sehari Bersama Penyintas” di Pidie Jaya

Model tersebut melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, mulai dari penyediaan material lokal hingga tenaga kerja desa yang terlebih dahulu mendapatkan pelatihan pertukangan. Selain menghasilkan hunian yang sesuai dengan kondisi lokal, pendekatan ini juga menciptakan perputaran ekonomi dan pemberdayaan masyarakat di wilayah terdampak.

Baca Juga |  Polda Aceh Tangkap Lima Pelaku Pungli di Kawasan Wisata Lamreh

Peristiwa di Desa Gedumbak menjadi pengingat bahwa keberhasilan rehabilitasi pascabencana tidak dapat diukur dari cepatnya pembangunan semata, tetapi juga dari kualitas bangunan, keberlanjutan manfaat, serta kemampuan proyek menjawab kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Masyarakat kini menanti evaluasi menyeluruh dari pemerintah dan pihak terkait agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada program pembangunan hunian bagi korban bencana di masa mendatang.

Reporter: ,
Editor:

Share :

Baca Juga

Musim kemarau di Aceh dan cuaca ekstrem.

Banda Aceh

Mengapa Suhu di Aceh Semakin Gerah? Ini Penyebab Cuaca Panas di Aceh
Dugong Conservation. Natural Aceh dan Yayasan KEHATI.

Aceh Besar

Kemunculan Dugong Langka di Lamreh Picu Konservasi Habitat Lamun di Aceh
Peresmian sumur bor PT solusi bangun Indonesia

Aceh Tamiang

Solusi Bangun Indonesia Resmikan Dua Sumur Bor di Aceh Tamiang
Deklarasi sikap Mahasiswa Aceh dan Liga Mahasiswa Malaya

Lingkungan

Mahasiswa Aceh-Malaya, Negara Belum Tuntaskan Krisis Ekologis Sumatera
Pemusnahan ladang ganja 2 hektar di Aceh Utara

Aceh Utara

Bea Cukai dan APH Musnahkan Ladang Ganja 2 Hektare di Aceh Utara
Gempa Magnitudo 6,7

Lingkungan

Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulawesi Tengah, BPBD Data Kerusakan dan Dampak
Aktivis CSO Sumatera desak percepatan pemulihan bencana

Lingkungan

CSO Sumatera Desak Percepatan Pemulihan Bencana
Kebakaran rumah kos putri di kopelma Darussalam

Aceh Besar

Kebakaran Hanguskan Dua Rumah Kos di Kopelma Darussalam