Banda Aceh – Program Makan Bergizi (MBG) yang ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi pelajar kembali menjadi sorotan pada bulan Ramadan 1447 H, Senin (23/02/2026).
Sejumlah sekolah di Banda Aceh dan Aceh Besar melaporkan paket makanan yang diterima siswa hanya terdiri dari dua potong roti, satu butir telur, buah, serta kacang atau kurma.
Pola menu yang relatif seragam dan minim variasi itu memicu pertanyaan mengenai standar gizi, kecukupan kalori, serta kesesuaian komposisi makanan untuk kebutuhan anak saat menjalankan ibadah puasa.
Sorotan semakin tajam setelah muncul informasi bahwa alokasi anggaran MBG disebut mencapai Rp45.000 per siswa. Jika dibandingkan dengan estimasi harga bahan makanan yang diterima siswa selama tiga hari, sejumlah pihak menilai terdapat potensi selisih signifikan.
Dugaan pemangkasan anggaran hingga sekitar Rp20.000 per siswa pun mencuat. Dalam skala ratusan hingga ribuan penerima manfaat, potensi selisih tersebut dinilai cukup besar dan perlu klarifikasi resmi dari penyelenggara program.
Selain persoalan nilai anggaran, kendala teknis juga terjadi di lapangan. Beberapa sekolah mengaku telah menunggu distribusi dalam waktu lama, namun paket MBG tak kunjung datang dengan alasan kesiapan logistik. Situasi ini menempatkan pihak sekolah dalam posisi sulit karena siswa dan orang tua sudah menerima informasi jadwal pembagian.
Dalam konteks Ramadan, ketepatan waktu distribusi menjadi faktor krusial. Program pangan untuk anak sekolah tidak hanya menyangkut aspek administratif, tetapi juga hak dasar anak atas asupan gizi yang layak.
Seharusnya, program sosial berskala besar seperti MBG harus didukung tata kelola transparan, sistem logistik yang terukur, serta pengawasan independen agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Desakan evaluasi menyeluruh pun menguat, mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga distribusi di tingkat sekolah. Publik meminta audit terbuka serta publikasi standar gizi dan biaya agar pelaksanaan MBG berjalan akuntabel.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera memberikan klarifikasi resmi guna menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program peningkatan gizi anak, terutama di momen Ramadan yang membutuhkan penyesuaian pola konsumsi secara tepat dan terencana.
Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka terkait rincian komponen biaya, standar harga satuan bahan pangan, maupun mekanisme pengawasan distribusi.








