Banda Aceh — Partai Aceh (PA) menggelar kegiatan Pendidikan Politik Tahun 2025 dengan mengusung tema “Ideologi Politik dan Pengaruhnya terhadap Kebijakan Publik”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (4-6/10/2025) tersebut dihadiri oleh seluruh kader Partai Aceh dari berbagai kabupaten dan kota se-Aceh.
Acara ini menghadirkan Fajran Zain selaku pemateri utama, serta Sri Mawarni, selaku Ketua Panitia dan juga Wakil Ketua Bidang Administrasi dan Umum DPP Partai Aceh.
Dalam sambutannya, Sri Mawarni menegaskan bahwa penguatan ideologi politik merupakan fondasi penting bagi partai dalam menentukan arah kebijakan publik.
“Ideologi politik sangat memengaruhi kebijakan publik. Kami mengangkat isu ini karena ruang pengembangannya luas. Jika Partai Aceh berideologi perjuangan, maka semangat berjuang untuk seluruh rakyat Aceh harus terus kita hidupkan. Disinilah jati diri Partai Aceh terlihat,” ujar Sri Mawarni.
Ia menambahkan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah memperkuat ideologi partai, mempertegas jati diri, serta menumbuhkan kesadaran politik yang sehat dan berkarakter di kalangan kader.
Sementara itu, dalam sesi materinya, Fajran Zain memaparkan sejarah terbentuknya partai lokal di Aceh, serta perkembangan partai-partai lokal (parlok) yang saat ini masih aktif dan memiliki kursi di lembaga legislatif daerah.

“Dalam empat kali pelaksanaan pemilu, Partai Aceh pernah unggul hingga 48 persen pada pemilu pertama. Namun kini, beberapa daerah masih menunjukkan tantangan tersendiri. Misalnya, Kota Sabang dengan 42 persen suara dan mencatatkan perolehan prosentase tertinggi perolehan suara,” jelas Fajran.
Ia menegaskan bahwa pendidikan politik sangat penting bagi seluruh kader agar memahami dinamika politik lokal Aceh, sekaligus memperkuat solidaritas internal partai dalam menghadapi tantangan ke depan.
Dalam kesempatan tersebut, Fajran juga menyinggung sejarah panjang perjuangan Aceh di masa lalu. Ia mengingatkan para kader tentang kejayaan Aceh yang dahulu disegani dan ditakuti penjajah karena kekayaan dan keteguhan semangat rakyatnya.
“Kita harus belajar dari sejarah. Aceh dulu bukan hanya kuat secara ekonomi dan sumber daya, tetapi juga memiliki semangat perjuangan yang luar biasa. Nilai-nilai inilah yang harus kita warisi dan implementasikan dalam perjuangan politik hari ini,” tutupnya.
Kegiatan pendidikan politik ini diharapkan dapat memperkuat konsolidasi internal Partai Aceh, sekaligus menjadi momentum untuk mempertegas posisi ideologis partai dalam memperjuangkan aspirasi rakyat Aceh di masa mendatang.








