Aceh Utara — Kepedulian terhadap warga terdampak bencana hidrometeorologi diwujudkan Suara Hati melalui penyaluran bantuan kemanusiaan di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, 25 Desember 2025.
Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan warga, tetapi juga memberi perhatian kepada kondisi psikologis anak-anak di lokasi terdampak.
Delapan relawan, yakni Muhammad Rayyan, Abiy Haidar Farras, Assyifa Meutia, Mifta Khairiah, Zikrillah, Sulthan Fathani, Riska Nazillah, dan Cut Hafiza, turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka membantu proses penyaluran bantuan sekaligus mendampingi masyarakat yang masih menghadapi dampak bencana.
Setibanya di Langkahan, para relawan melihat langsung kondisi warga. Aliran sungai dipenuhi kayu tumbang yang terbawa arus. Sejumlah rumah mengalami kerusakan, sementara sebagian warga memilih bertahan di tempat yang lebih aman. Sebuah balai desa digunakan sebagai lokasi berkumpul sekaligus tempat berlindung masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian relawan diarahkan kepada anak-anak yang mengalami rasa takut dan kekhawatiran setelah menghadapi bencana. Pendampingan dilakukan melalui kegiatan bermain dan belajar bersama. Anak-anak diajak berinteraksi, bercerita, bermain, serta mengikuti aktivitas belajar dalam suasana yang lebih santai.
Perlahan, suasana berubah. Anak-anak mulai kembali tertawa dan antusias mengikuti kegiatan. Bagi relawan, momen tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan berupa barang, tetapi juga membutuhkan kehadiran dan perhatian terhadap kelompok yang rentan.
“Bantuan mungkin akan habis digunakan, tetapi kepedulian yang diberikan diharapkan dapat meninggalkan pesan bahwa masyarakat tidak menghadapi keadaan ini sendirian,” menjadi pesan yang tercermin dari kegiatan kemanusiaan tersebut.
Selain mendampingi anak-anak, para relawan bersama anggota lainnya tetap membantu proses distribusi bantuan kepada masyarakat. Bantuan diturunkan, disusun, kemudian dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Proses itu dilakukan secara gotong royong agar penyaluran berlangsung tertib dan tepat sasaran.
Kegiatan Suara Hati di Langkahan memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana memiliki dimensi yang lebih luas. Kerusakan fisik memang membutuhkan penanganan, tetapi rasa aman dan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak, juga tidak dapat diabaikan.
Bagi para relawan, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tentang empati dan kemanusiaan. Kehadiran mereka mungkin tidak menghapus seluruh kesulitan warga, tetapi setidaknya menjadi bagian dari dukungan bagi masyarakat yang sedang melewati masa sulit.









