Banda Aceh — Mahasiswa Aceh, Misbah Hidayat, mengecam keras dugaan tindakan kekerasan yang melibatkan oknum aparat, menyusul kasus penyiraman terhadap Andrie Yunus serta insiden tertabraknya Ibu Ani Maryati.
Dalam pernyataannya, Minggu (5/4/2026), Misbah menilai dua peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebagai insiden terpisah, melainkan bagian dari pola yang harus menjadi perhatian serius. Ia juga menyinggung sejumlah peristiwa sebelumnya, termasuk insiden yang melibatkan aparat saat aksi pada 28 Agustus 2025, yang dinilai meninggalkan dampak mendalam di tengah masyarakat.
“Aparat negara seharusnya menjadi pelindung, bukan justru menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat. Peristiwa seperti ini tidak boleh dianggap biasa,” ujarnya.
Misbah mengingatkan bahwa Aceh memiliki sejarah panjang terkait konflik dan kekerasan, sehingga setiap dugaan tindakan represif berpotensi memicu kembali trauma kolektif masyarakat. Ia menilai penting adanya pendekatan yang lebih humanis dalam setiap penanganan situasi di lapangan.
Menurutnya, dugaan tindakan kekerasan terhadap warga sipil harus ditangani secara serius melalui mekanisme hukum yang transparan dan akuntabel. Ia juga menekankan pentingnya pemulihan bagi korban dan keluarga yang terdampak.
“Kita tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi sesuatu yang dinormalisasi. Yang dibutuhkan masyarakat adalah rasa aman, bukan ketakutan,” tegasnya.
Ia pun mendorong seluruh pihak terkait untuk memastikan setiap laporan masyarakat ditindaklanjuti secara profesional, serta menjamin perlindungan terhadap hak-hak sipil sebagai bagian dari komitmen terhadap penegakan hukum dan keadilan.








